IFA.id -- Dalam sebuah pertemuan dengan para kepala daerah, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti fenomena "Pejabat Eweuh Gawe," istilah dalam bahasa Sunda yang berarti pejabat yang tidak bekerja atau pasif.
Ia mengkritik pejabat yang terlalu bergantung pada asisten untuk tugas-tugas pribadi, seperti membawa tas atau memegang ponsel.
Dedi Mulyadi mencontohkan situasi di mana seorang pejabat bahkan memerlukan bantuan untuk melakukan panggilan telepon.
Baca Juga: Tiga Remaja Tersesat di Gunung Arjuno Ditemukan Selamat Setelah Dua Hari Pencarian
Ia menyindir dengan menyebut pejabat semacam itu sebagai "Pejabat Stroke," menggambarkan ketidakmampuan mereka dalam menjalankan tugas-tugas dasar secara mandiri.
Sindiran tersebut disampaikan Dedi untuk mendorong para pejabat agar lebih mandiri dan proaktif dalam menjalankan tugas mereka.
Ia menekankan pentingnya kemandirian dan inisiatif dalam kepemimpinan, tanpa terlalu mengandalkan bantuan dari staf atau asisten.
Baca Juga: Empat Hari Berjalan, Program Penghapusan Tunggakan Pajak Kendaraan Jabar Himpun Rp76,3 Miliar
Pernyataan Gubernur Dedi mendapat perhatian luas dan menjadi perbincangan di kalangan pejabat dan masyarakat.
Banyak yang menilai kritik tersebut sebagai pengingat penting bagi para pemimpin daerah untuk lebih bertanggung jawab dan aktif dalam menjalankan tugas mereka.
Dengan kritik ini, diharapkan para pejabat di Jawa Barat dan daerah lainnya dapat meningkatkan kinerja dan kemandirian mereka, sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
Artikel Terkait
Menghadapi Kegelisahan dengan Dzikir dan Tawakal dalam Islam
Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala Daerah se-NTT Perkuat Sinergi Kebijakan Pertanahan
Jawa Tengah Terapkan Program Penghapusan Tunggakan Pajak Kendaraan Mulai 8 April 2025
Empat Hari Berjalan, Program Penghapusan Tunggakan Pajak Kendaraan Jabar Himpun Rp76,3 Miliar
Tiga Remaja Tersesat di Gunung Arjuno Ditemukan Selamat Setelah Dua Hari Pencarian