IFA.id -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Maruarar Sirait, menyoroti rendahnya tingkat hunian rumah susun (rusun) yang dibangun untuk pekerja di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah.
Dalam kunjungannya pada Kamis (1/5), Maruarar menyatakan keprihatinannya atas banyaknya unit rusun yang belum ditempati, meskipun telah selesai dibangun.
Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah membangun 10 menara rusun tipe barak di KIT Batang dengan total anggaran mencapai Rp351 miliar.
Pembangunan ini bertujuan untuk menyediakan hunian layak bagi para pekerja industri di kawasan tersebut.
Namun, hingga saat ini, banyak unit rusun tersebut belum dihuni. Maruarar menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pengelola kawasan industri untuk memastikan rusun tersebut dapat dimanfaatkan sesuai peruntukannya.
Baca Juga: Antam Hentikan Penjualan Bauksit dan FeNi Karena Harga HPM Dinilai Tak Sesuai Pasar
Ia juga mendorong agar fasilitas pendukung seperti akses transportasi dan layanan publik segera disiapkan guna menarik minat pekerja untuk menempati rusun tersebut.
Kawasan Industri Terpadu Batang sendiri diproyeksikan akan menyerap hingga 282.000 tenaga kerja hingga tahun 2031.
Oleh karena itu, penyediaan hunian yang memadai menjadi salah satu faktor kunci dalam mendukung pertumbuhan industri dan kesejahteraan pekerja di kawasan tersebut.
Artikel Terkait
Surabaya Pimpin Pembentukan SSK, BKKBN Dorong Integrasi GDPK untuk Pembangunan SDM
Dealer Honda Tertua di Surabaya Bantah Tuduhan Pemalsuan Tanda Tangan dalam Proses Balik Nama SHGB
Polda Jateng Geledah Rumah Predator Seks di Jepara, Terungkap 31 Anak Jadi Korban, Mayoritas Masih Pelajar
Diduga Curi Brondol Sawit, 3 Warga Suku Anak Dalam Dianiaya Sekuriti Perkebunan di Jambi, 1 Tewas dan 2 Luka Berat
Sidang Mediasi Gugatan Ijazah Jokowi di PN Solo, Kuasa Hukum Tolak Tunjukkan Dokumen karena Alasan Privasi