Kamis, 4 Juni 2026

Gubernur Jabar Wacanakan Pembinaan Militer bagi Siswa Lelaki Berperilaku Feminin

- Sabtu, 3 Mei 2025 | 22:03 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Foto/jabargo.com (Biro Adpim Jabar))
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Foto/jabargo.com (Biro Adpim Jabar))

 

IFA.id -- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melontarkan wacana pengiriman siswa laki-laki yang berperilaku gemulai ke barak militer untuk mengikuti program pembinaan karakter.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap fenomena meningkatnya perilaku yang dinilai menyimpang dari norma maskulinitas di kalangan pelajar.

Menurut Dedi, perilaku gemulai pada siswa laki-laki dianggap sebagai bentuk penyimpangan karakter yang perlu diarahkan melalui pendekatan yang lebih tegas.

Baca Juga: IIF Catat Laba Bersih Rp122,51 Miliar pada 2024, Tumbuh 17,63%

Ia menegaskan bahwa pengiriman ke barak militer bukanlah bentuk hukuman, melainkan bagian dari upaya pembinaan mental dan fisik agar para siswa tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, tangguh, dan bertanggung jawab.

"Ini bukan bentuk kekerasan. Kami ingin anak-anak dibina agar kembali pada karakter yang sesuai.

Di barak, mereka akan dilatih bangun pagi, olahraga, dan belajar hidup tertib," ujar Dedi dalam keterangannya.

Baca Juga: Batam Seafood, Kuliner Peranakan yang Perlu Dilestarikan

Lebih lanjut, Dedi menyebutkan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi dengan institusi pendidikan dan aparat militer untuk merancang sistem pembinaan yang tepat.

Ia menekankan pentingnya intervensi sejak dini agar nilai-nilai dasar tentang tanggung jawab dan peran sosial dapat tertanam kuat pada generasi muda.

Namun, wacana ini langsung menuai tanggapan dari berbagai kalangan. Sejumlah aktivis pendidikan dan pegiat hak anak menilai kebijakan tersebut berpotensi melanggar hak individu, terutama dalam hal ekspresi diri dan keragaman identitas gender.

Baca Juga: UPJ Gelar Humanis Festival 2025: Kolaborasi Inovatif Dunia Pendidikan dan Industri

Mereka khawatir pendekatan seperti itu justru memperkuat stigma dan diskriminasi terhadap anak-anak yang memiliki karakter berbeda.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Shinta Sukmawati Khiran

Sumber: jawapos.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X