IFA.id -- Kawasan Glodok Pancoran di Jakarta Barat terus berkembang sebagai pusat kuliner dan wisata budaya yang tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyuguhkan kekayaan sejarah peranakan Tionghoa.
Terletak di jantung Pecinan Jakarta, kawasan ini menjadi destinasi favorit masyarakat lokal hingga wisatawan mancanegara yang ingin merasakan atmosfer khas Chinatown sekaligus menikmati beragam kuliner legendaris.
Di sepanjang Gang Gloria hingga Petak Enam, pengunjung dapat menemukan aneka hidangan yang menggambarkan akulturasi budaya, seperti bakmi, soto betawi, bubur ayam, hingga kue-kue tradisional Tionghoa.
Baca Juga: Parkir Sembarangan di Jalan Jenderal Sudirman Brebes Ganggu Ketertiban Lalu Lintas
Beberapa pedagang telah berjualan secara turun-temurun selama puluhan tahun, menjadikan kawasan ini tidak hanya sebagai pusat jajanan, tetapi juga simbol warisan kuliner yang dijaga lintas generasi.
Selain kuliner, Glodok Pancoran juga sarat nilai sejarah. Gapura besar bertuliskan "Chinatown" di pintu masuk kawasan menjadi ikon integrasi budaya Tionghoa-Betawi di Jakarta.
Kawasan ini juga menjadi saksi sejarah interaksi dagang dan sosial sejak masa kolonial Belanda, menjadikannya salah satu kawasan kota tua yang masih aktif dan hidup hingga kini.
Baca Juga: Pemkot Bogor Tertibkan Angkot Tak Berizin, Puluhan Kendaraan Ditahan
Pada momen-momen penting seperti Imlek dan Cap Go Meh, kawasan ini dipenuhi pertunjukan barongsai, parade budaya, dan dekorasi merah meriah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun secara aktif mendorong revitalisasi kawasan ini, menjadikannya salah satu destinasi unggulan wisata kota berbasis sejarah dan ekonomi kreatif.
Dengan potensi budaya, kuliner, dan sejarah yang menyatu dalam satu kawasan, Glodok Pancoran menjadi contoh nyata bagaimana kota besar seperti Jakarta dapat melestarikan identitas lokal di tengah modernisasi.