IFA.id -- Di RW 5, Kelurahan Mantrijeron, Yogyakarta, warga berhasil mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos menggunakan teknologi Biopori Jumbo.
Berbeda dari biopori biasa, metode ini memanfaatkan lubang berdiameter lebih besar dan kedalaman hingga empat meter, sehingga mampu menampung lebih banyak sampah tanpa menimbulkan bau atau pencemaran lingkungan.
Program ini digagas oleh Sumarsini, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur, yang bertekad menghijaukan lingkungan setelah pensiun.
Baca Juga: Budidaya Sidat: Peluang Bisnis Menggiurkan dengan Keuntungan Ratusan Juta dalam Setahun
Dengan semangat gotong royong, gang-gang sempit di daerahnya kini dipenuhi tanaman produktif seperti jahe merah, kencur, dan seledri.
Selain menghijaukan kota, tanaman ini juga membantu menyerap polusi udara.
Sistem Biopori Jumbo bekerja dengan memfermentasi sampah organik menggunakan EM4 dan tetes tebu, menghasilkan kompos berkualitas dalam waktu 3–4 bulan.
Kompos ini kemudian dimanfaatkan sebagai media tanam, menghemat biaya budidaya.
Lurah Mantrijeron, Samsu, menyatakan bahwa inovasi ini menjadi solusi praktis bagi kota yang mengalami keterbatasan lahan, sekaligus mengurangi volume sampah secara mandiri.