IFA.id -- Di balik hijaunya lahan pertanian di Desa Tani, tersimpan kisah inspiratif Mang Ade, seorang mantan pecandu yang kini menjadi penggerak pertanian berbasis zakat.
Selama 14 tahun, ia terjebak dalam kehidupan kelam, tetapi setelah perjalanan panjang menuju pemulihan, ia memilih jalan baru sebagai petani yang memberdayakan masyarakat kecil.
Mang Ade merasakan sendiri sulitnya dunia pertanian, di mana petani kecil sering kali menjadi objek tanpa dukungan memadai.
Baca Juga: Salak Bali: Warisan Pertanian Dunia yang Terjaga Kelestariannya
Dari pengalaman itulah ia mendirikan Desa Tani di Cibodas, Lembang, Bandung Barat.
Dengan dukungan Dompet Dhuafa dan berbagai pihak, ia mengelola lahan seluas 10 hektar yang digarap bersama 44 petani penerima manfaat.
Sistem pertaniannya berbeda dari konvensional—petani tak perlu modal awal karena semua kebutuhan seperti lahan, bibit, dan pupuk telah disediakan, sementara hasil panen dikelola koperasi untuk menjaga keberlanjutan program.
Baca Juga: Habibi Garden: Smart Farming Berbasis IoT, Bertani Lebih Efisien Hanya Lewat Smartphone
Selain meningkatkan kesejahteraan petani, Mang Ade juga mengupayakan pertanian yang lebih sehat dengan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang merusak tanah.
Bagi Mang Ade, Desa Tani bukan sekadar tempat bertani, tetapi juga simbol perubahan.
Perjalanannya dari kehidupan kelam menuju pemberdayaan masyarakat menunjukkan bahwa hijrah bukan hanya soal meninggalkan masa lalu, tetapi juga menciptakan masa depan yang lebih baik bagi banyak orang.
Artikel Terkait
KIS Fruit: Keberhasilan Budidaya Melon Premium dengan Sistem Organik
Pasangan Ini Terapkan Integrated Farming, Wujudkan Kemandirian Pangan dan Finansial
Agrotani Lembang: Pemasaran Satu Pintu untuk Petani Tomat Beef yang Lebih Sejahtera
Habibi Garden: Smart Farming Berbasis IoT, Bertani Lebih Efisien Hanya Lewat Smartphone
Salak Bali: Warisan Pertanian Dunia yang Terjaga Kelestariannya