IFA.id -- Di Bandung, sebuah peternakan sapi berhasil menciptakan sistem pertanian terpadu yang mengubah limbah ternak menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi.
Peternakan milik Pak Omas ini memanfaatkan kotoran sapi untuk menghasilkan biogas, pupuk organik, dan pakan cacing, menciptakan siklus berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Prosesnya diawali dengan pengolahan kotoran sapi menjadi biogas yang dapat digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga.
Baca Juga: Bangkit dari Keterpurukan! Mantan Pecandu Kini Berdayakan Petani Miskin
Biogas yang dihasilkan bahkan cukup untuk memenuhi kebutuhan dua rumah di sekitar peternakan.
Tak hanya itu, sisa limbah biogas kemudian diolah menjadi pupuk organik yang digunakan untuk menyuburkan lahan hijauan pakan ternak. Dengan begitu, biaya pakan pun dapat ditekan secara signifikan.
Menariknya, limbah hasil pengolahan biogas juga dimanfaatkan untuk budidaya cacing Lumbricus.
Cacing-cacing ini dijual dengan harga Rp25.000 per kilogram, sementara pupuk casting dari cacing dihargai Rp20.000–Rp25.000 per karung, tergantung tingkat kelembutannya.
Baca Juga: Salak Bali: Warisan Pertanian Dunia yang Terjaga Kelestariannya
Pak Omas mengungkapkan bahwa permintaan akan cacing sangat tinggi, bahkan pasokan saat ini masih belum mencukupi kebutuhan pasar.
Ia berharap konsep peternakan terpadu ini dapat terus berkembang dan didukung oleh pemerintah agar manfaatnya semakin luas.
Inovasi ini membuktikan bahwa kotoran sapi bukan hanya limbah, tetapi juga peluang bisnis berkelanjutan yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.
Artikel Terkait
Pasangan Ini Terapkan Integrated Farming, Wujudkan Kemandirian Pangan dan Finansial
Agrotani Lembang: Pemasaran Satu Pintu untuk Petani Tomat Beef yang Lebih Sejahtera
Habibi Garden: Smart Farming Berbasis IoT, Bertani Lebih Efisien Hanya Lewat Smartphone
Salak Bali: Warisan Pertanian Dunia yang Terjaga Kelestariannya
Bangkit dari Keterpurukan! Mantan Pecandu Kini Berdayakan Petani Miskin