IFA.id - Pernahkah terbangun di tengah malam, ketika semua sunyi dan hanya detak jantung terdengar jelas?
Di saat seperti itu, ada momen langka ketika langit seolah membuka pintunya. Dalam Islam, waktu itu dikenal sebagai sepertiga malam terakhir, waktu paling mustajab untuk mendirikan sholat tahajud.
IFA.id mencatat, inilah saat langit paling dekat dengan bumi. Bukan dalam arti fisik, tapi makna spiritual yang dalam: saat cinta Ilahi terasa paling nyata.
Rasulullah SAW bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir dan berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan; siapa yang meminta, akan Aku beri; siapa yang memohon ampun, akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca Juga: Cara Memulai Sholat Tahajud Tanpa Terbebani: Panduan Praktis untuk Pemula
Kalimat itu bukan sekadar janji, tapi undangan lembut dari Sang Pencipta. Saat dunia terlelap dan sunyi membungkus bumi, Allah justru “mendekat” kepada hamba-Nya. Itulah waktu terbaik untuk berbicara tanpa topeng, memohon tanpa batas, dan menangis tanpa malu.
Berdasarkan hitungan waktu, sepertiga malam terakhir jatuh antara pukul 02.00 hingga menjelang Subuh (sekitar 04.00). Namun, IFA.id mengingatkan bahwa setiap wilayah memiliki waktu fajar yang berbeda, jadi penting menyesuaikannya dengan jadwal setempat.
Mengapa waktu ini begitu istimewa? Secara spiritual, karena di saat manusia sedang paling lemah, Allah justru paling dekat. Secara psikologis, karena otak dan hati dalam kondisi paling tenang.
Bahkan penelitian dari Universitas Harvard tahun 2018 menunjukkan bahwa aktivitas spiritual di waktu hening malam meningkatkan hormon dopamin dan serotonin, yang berperan besar dalam rasa bahagia dan damai. Jadi, bukan hanya ruh yang tenang, tubuh pun ikut sembuh.
Baca Juga: Tahajud untuk Rezeki dan Ketentraman: Fakta atau Mitos?
Banyak kisah yang lahir dari waktu ini. IFA.id menemukan catatan menarik dari kisah ulama besar seperti Imam Syafi’i yang dikenal hampir tak pernah melewatkan tahajud. Ia menyebut, _"Tahajud adalah jam istimewa di mana doa tidak butuh alamat untuk sampai kepada Allah." _
Bahkan sahabat Nabi, Umar bin Khattab, sering menangis dalam tahajudnya hingga janggutnya basah. Bukan karena sedih, tapi karena rindu. Rindu akan ketenangan yang tak bisa digantikan dunia.
Untuk mengetahui sepertiga malam terakhir, gunakan rumus sederhana:
Artikel Terkait
Ilmu Psikologi di Balik Sholat Dhuha: Rahasia Bahagia Setiap Pagi
Kenapa Nabi Sangat Menganjurkan Sholat Dhuha? Ini Penjelasan Ilmiahnya
“Dari Zakat ke Empati: Makna Sejati Berbagi dalam Islam”
Kisah-Kisah Hebat di Balik Sedekah: Bukti Nyata Berkah Berbagi