Kamis, 4 Juni 2026

Menapak Jejak Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik: Awal Dakwah di Nusantara

- Selasa, 18 November 2025 | 19:52 WIB
Menapak jejak dakwah Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik  langkah-langkah penuh hikmah yang menjadi awal tersebarnya cahaya Islam di Nusantara. (Foto/Ilustrasi)
Menapak jejak dakwah Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik langkah-langkah penuh hikmah yang menjadi awal tersebarnya cahaya Islam di Nusantara. (Foto/Ilustrasi)

 

IFA.id – Ada satu nama yang sejak dulu dianggap sebagai pintu awal penyebaran Islam di tanah Jawa. Namanya Syekh Maulana Malik Ibrahim. Di Gresik, jejaknya tak hanya menjadi peninggalan sejarah,

tetapi juga ruang kontemplasi yang membuat setiap orang merasa sedang melihat halaman pertama perjalanan Islam di Nusantara. IFA.id merangkum kisah dan suasana napak tilas yang masih hidup hingga sekarang, membawa nuansa tenang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Dari luar, komplek makam Maulana Malik Ibrahim tampak sederhana. Tapi begitu memasuki halaman, suasananya langsung berubah.

Ada kesunyian yang terasa hidup, seakan menyambut siapa saja yang datang untuk belajar tentang keikhlasan dan perintisan dakwah yang dilakukan berabad-abad lalu.

Baca Juga: Pesona Masjid Raya Baiturrahman Aceh: Simbol Ketangguhan dan Iman

Warga sekitar menyebut tempat ini bukan sekadar situs sejarah, tetapi ruang belajar yang tak pernah berhenti mengajarkan makna sabar dan ketekunan.

Kisah Maulana Malik Ibrahim selalu menarik karena ia disebut sebagai wali pertama yang datang sebelum Wali Songo lainnya. Para sejarawan menyebutnya tiba sekitar akhir abad ke-14, membawa misi dakwah damai dengan pendekatan sosial.

IFA.id mencatat, ada dua hal yang membuat dakwah beliau diterima dengan sangat baik: ia datang dengan ilmu, dan ia datang dengan kerja nyata yang menyentuh masyarakat kecil.

Beberapa catatan sejarah menyebut bahwa Maulana Malik Ibrahim banyak membantu masyarakat Gresik yang saat itu menghadapi berbagai kesulitan. Ia mengajarkan pertanian baru, membantu pengobatan rakyat, dan membangun hubungan harmonis lintas kepercayaan.

Baca Juga: Menyusuri Makam Sunan Kalijaga: Wisata Religi Paling Dicari di Jawa

Pendekatan pelan tapi pasti ini membuat dakwahnya tidak menimbulkan gejolak, tapi justru diterima dengan penuh penghormatan. Sebuah metode yang terasa sangat relevan, bahkan ratusan tahun kemudian.

Saat berjalan menyusuri lokasi makam, banyak orang merasakan keteduhan yang lain. Entah dari pepohonan yang menaungi halaman,

atau dari bayangan bahwa di tempat itulah seorang tokoh besar dulu menanam benih kebaikan yang akhirnya tumbuh menjadi tradisi Islam Nusantara yang kaya dan inklusif.

IFA.id melansir, makam beliau juga menjadi salah satu situs ziarah paling ramai, terutama saat musim liburan atau bulan-bulan tertentu dalam kalender hijriah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Belajar di Era Digital: Pandangan Islam & Tantangannya

Kamis, 20 November 2025 | 17:31 WIB

Cara Menuntut Ilmu yang Diajarkan Nabi

Kamis, 20 November 2025 | 17:28 WIB

Ilmu sebagai Cahaya: Makna Mendalam Menurut Ulama

Kamis, 20 November 2025 | 17:16 WIB

Belajar Sepanjang Hayat dalam Perspektif Islam

Kamis, 20 November 2025 | 17:11 WIB

Adab Menuntut Ilmu yang Mulai Dilupakan

Kamis, 20 November 2025 | 17:06 WIB

Mengapa Belajar Jadi Wajib dalam Islam?

Kamis, 20 November 2025 | 17:01 WIB

Rahasia Keutamaan Menuntut Ilmu dalam Islam

Kamis, 20 November 2025 | 16:56 WIB

Amalan Jumat Pembuka Rezeki Menurut Sunnah

Jumat, 14 November 2025 | 16:45 WIB

Keutamaan Hari Jumat dalam Islam yang Perlu Dipahami

Jumat, 14 November 2025 | 15:12 WIB

Terpopuler

X