IFA.id - Pernahkah terpikir: mengapa manusia begitu sibuk mengejar, takut kehilangan, dan gelisah menatap masa depan, padahal dunia ini hanya persinggahan sementara?
Sebuah pertanyaan sederhana namun mengguncang: jika dunia sementara, mengapa kita tak menjadi lebih tenang?
Bayangan Sementara yang Terasa Nyata
Manusia seperti pengembara yang menatap fatamorgana di padang pasir. Dari jauh tampak seperti oase, padahal hanya pantulan cahaya.
Begitulah dunia: indah, memesona, tapi fana. IFA.id mencatat, betapa banyak orang yang baru menyadari kefanaan hidup setelah kehilangan sesuatu yang dicintai harta, jabatan, bahkan orang terdekat.
Baca Juga: Kenapa Hati Tak Pernah Puas? Karena Dunia Ini Bukan Rumah Sebenarnya
Ironisnya, meski sadar dunia tak kekal, hati tetap bergejolak. Mengapa? Karena manusia bukan hanya makhluk logika, tapi juga makhluk rasa. Ia tahu kebenaran, namun tetap dikuasai keinginan.
Hati yang Terlalu Terikat
Bayangkan seseorang yang sedang berada di bandara, tahu bahwa pesawatnya akan berangkat dalam satu jam. Tapi ia malah sibuk menata ruang tunggu, menggantung foto keluarga, menata kursi, seolah akan tinggal di sana selamanya.
Begitulah manusia memperlakukan dunia.
IFA.id melansir, keterikatan pada dunia bukan karena tidak tahu bahwa dunia sementara, tapi karena terlalu menikmati kenyamanannya.
Kita takut tenang karena di balik ketenangan ada kesadaran: semua ini bisa hilang. Dan manusia takut kehilangan lebih dari apa pun.
Baca Juga: Ketika Dunia Mulai Terasa Berat, Ingatlah Bahwa Semuanya Sementara
Mengapa Kita Tak Tenang?
Artikel Terkait
Bangun Pagi, Niat Suci: Begini Cara Menjadikan Pekerjaan Sebagai Ibadah
Dari Sawah ke Kota: Bagaimana Hujan Menjadi Sumber Kehidupan
Kerja Keras dengan Hati Lillah: Tren Baru Profesional Muslim di Era Digital