Kamis, 4 Juni 2026

Jika Dunia Sementara, Mengapa Kita Tak Menjadi Lebih Tenang?

- Selasa, 4 November 2025 | 12:44 WIB
Manusia adalah pengembara cahaya di dunia sementara. Ketenangan bukan tujuan akhir, melainkan bekal perjalanan. (Foto/Ilustrasi)
Manusia adalah pengembara cahaya di dunia sementara. Ketenangan bukan tujuan akhir, melainkan bekal perjalanan. (Foto/Ilustrasi)

Dalam kitab-kitab hikmah klasik yang sering dirujuk para ulama, disebutkan bahwa kegelisahan manusia lahir dari ketidakseimbangan antara cinta dunia dan ingat akhirat. Ketika fokus bergeser sepenuhnya pada dunia pada hasil, pencapaian, dan validasi hati kehilangan jangkar.

IFA.id menelusuri beberapa riset psikologi modern yang justru sejalan dengan pandangan spiritual Islam.

Menurut studi dari Harvard University (2023), tingkat stres tertinggi muncul bukan karena kekurangan materi, tapi karena rasa takut kehilangan status dan kontrol. Semakin besar sesuatu yang dipegang, semakin takut kehilangan.

Seni Melepas: Belajar Tenang di Tengah Hiruk Pikuk

Ketika dunia terasa terlalu cepat, mungkin yang dibutuhkan bukan lagi strategi, tapi seni melepaskan. Melepas bukan berarti menyerah, melainkan menyadari batas kendali.
Seperti petani yang menanam dengan tekun, tapi tahu hujan dan hasil bukan di tangannya.

Baca Juga: Hidup di Dunia Hanya Sementara: Lalu Untuk Apa Kita Mengejarnya?

IFA.id menulis, “tenang bukan berarti pasif, tapi sadar bahwa segala sesuatu punya waktu dan takdirnya.”

Cobalah merenung sebentar:

  • Apa yang sebenarnya dicari?

  • Apakah kegelisahan ini membawa lebih dekat kepada makna?

  • Ataukah hanya mempertebal kabut yang menutupi hati?

    Dunia Sebagai Kelas Singgah

Dalam pandangan tasawuf, dunia bukan musuh, melainkan guru. Ia mengajar dengan cara yang keras: memberi, lalu mengambil.
Setiap kehilangan mengingatkan bahwa kepemilikan hanyalah pinjaman.

Baca Juga: Bekerja Tanpa Mengeluh: Jalan Sunyi Para Pekerja yang Menyebut Kantornya Sebagai Mihrab

Imam Al-Ghazali menulis, “Cintailah dunia sekadar untuk melaluinya, bukan untuk tinggal di dalamnya.” Kalimat ini seperti kunci yang hilang dari peradaban modern. Di era kecepatan dan ekspektasi, tenang terasa seperti kemewahan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Belajar di Era Digital: Pandangan Islam & Tantangannya

Kamis, 20 November 2025 | 17:31 WIB

Cara Menuntut Ilmu yang Diajarkan Nabi

Kamis, 20 November 2025 | 17:28 WIB

Ilmu sebagai Cahaya: Makna Mendalam Menurut Ulama

Kamis, 20 November 2025 | 17:16 WIB

Belajar Sepanjang Hayat dalam Perspektif Islam

Kamis, 20 November 2025 | 17:11 WIB

Adab Menuntut Ilmu yang Mulai Dilupakan

Kamis, 20 November 2025 | 17:06 WIB

Mengapa Belajar Jadi Wajib dalam Islam?

Kamis, 20 November 2025 | 17:01 WIB

Rahasia Keutamaan Menuntut Ilmu dalam Islam

Kamis, 20 November 2025 | 16:56 WIB

Amalan Jumat Pembuka Rezeki Menurut Sunnah

Jumat, 14 November 2025 | 16:45 WIB

Keutamaan Hari Jumat dalam Islam yang Perlu Dipahami

Jumat, 14 November 2025 | 15:12 WIB

Terpopuler

X