Dalam kitab-kitab hikmah klasik yang sering dirujuk para ulama, disebutkan bahwa kegelisahan manusia lahir dari ketidakseimbangan antara cinta dunia dan ingat akhirat. Ketika fokus bergeser sepenuhnya pada dunia pada hasil, pencapaian, dan validasi hati kehilangan jangkar.
IFA.id menelusuri beberapa riset psikologi modern yang justru sejalan dengan pandangan spiritual Islam.
Menurut studi dari Harvard University (2023), tingkat stres tertinggi muncul bukan karena kekurangan materi, tapi karena rasa takut kehilangan status dan kontrol. Semakin besar sesuatu yang dipegang, semakin takut kehilangan.
Seni Melepas: Belajar Tenang di Tengah Hiruk Pikuk
Ketika dunia terasa terlalu cepat, mungkin yang dibutuhkan bukan lagi strategi, tapi seni melepaskan. Melepas bukan berarti menyerah, melainkan menyadari batas kendali.
Seperti petani yang menanam dengan tekun, tapi tahu hujan dan hasil bukan di tangannya.
Baca Juga: Hidup di Dunia Hanya Sementara: Lalu Untuk Apa Kita Mengejarnya?
IFA.id menulis, “tenang bukan berarti pasif, tapi sadar bahwa segala sesuatu punya waktu dan takdirnya.”
Cobalah merenung sebentar:
-
Apa yang sebenarnya dicari?
-
Apakah kegelisahan ini membawa lebih dekat kepada makna?
-
Ataukah hanya mempertebal kabut yang menutupi hati?
Dunia Sebagai Kelas Singgah
Dalam pandangan tasawuf, dunia bukan musuh, melainkan guru. Ia mengajar dengan cara yang keras: memberi, lalu mengambil.
Setiap kehilangan mengingatkan bahwa kepemilikan hanyalah pinjaman.
Baca Juga: Bekerja Tanpa Mengeluh: Jalan Sunyi Para Pekerja yang Menyebut Kantornya Sebagai Mihrab
Imam Al-Ghazali menulis, “Cintailah dunia sekadar untuk melaluinya, bukan untuk tinggal di dalamnya.” Kalimat ini seperti kunci yang hilang dari peradaban modern. Di era kecepatan dan ekspektasi, tenang terasa seperti kemewahan.
Artikel Terkait
Bangun Pagi, Niat Suci: Begini Cara Menjadikan Pekerjaan Sebagai Ibadah
Dari Sawah ke Kota: Bagaimana Hujan Menjadi Sumber Kehidupan
Kerja Keras dengan Hati Lillah: Tren Baru Profesional Muslim di Era Digital