Kamis, 4 Juni 2026

Hidup di Dunia Hanya Sementara: Lalu Untuk Apa Kita Mengejarnya?

- Selasa, 4 November 2025 | 12:18 WIB
Bayangan mentari senja di atas jalan sepi — mengingatkan bahwa semua yang indah pun akan berlalu. Dunia hanya singgah, bukan rumah abadi. (Foto/Ilustrasi)
Bayangan mentari senja di atas jalan sepi — mengingatkan bahwa semua yang indah pun akan berlalu. Dunia hanya singgah, bukan rumah abadi. (Foto/Ilustrasi)

 

IFA.id - Pernahkah ada momen ketika semua terasa terlalu cepat berlalu?
Satu hari kita tertawa, esoknya kita kehilangan. Satu waktu kita berlari mengejar dunia, lalu tiba-tiba sadar: dunia justru menjauh, tak pernah bisa digenggam sepenuhnya.

Begitulah hidup singkat, fana, dan sering kali mengecoh arah hati.
IFA.id merangkum sebuah renungan sederhana: untuk apa sebenarnya manusia mengejar sesuatu yang tidak abadi?

1. Dunia: Tempat Singgah, Bukan Tujuan Akhir

Ada sebuah pepatah Arab yang indah:
"Ad-dunya mazra’atul-akhirah"  dunia adalah ladang untuk akhirat.

Kita hidup bukan untuk tinggal selamanya di sini, tapi untuk menanam. Setiap kata, tindakan, dan niat adalah benih yang kelak tumbuh di tanah keabadian. Namun, sering kali manusia lupa bahwa ladang ini hanya sementara.

Baca Juga: Bekerja Tanpa Mengeluh: Jalan Sunyi Para Pekerja yang Menyebut Kantornya Sebagai Mihrab

Kita sibuk membangun istana pasir di tepi pantai, padahal ombak waktu akan datang menggulung semuanya.

IFA.id mencatat, fenomena ini terlihat jelas di zaman modern. Orang berlomba-lomba mempercantik tampilan luar: rumah, karier, media sosial. Tapi semakin tinggi bangunan dunia itu, sering kali semakin kosong ruang di dalam dada.

2. Mengapa Kita Terjebak dalam Pengejaran yang Tak Berujung

Kehidupan modern menciptakan ilusi “harus lebih dari yang lain”.
Lebih kaya, lebih populer, lebih cepat sukses.
Namun, apakah benar itu makna hidup?

Sebuah penelitian dari Harvard Study of Adult Development studi terpanjang tentang kebahagiaan manusia menemukan bahwa bukan harta atau ketenaran yang membuat hidup bahagia, melainkan hubungan yang bermakna dan hati yang tenang.

Baca Juga: Dari Kantor ke Masjid: Cerita Nyata Profesional yang Menemukan Makna Ibadah dalam Pekerjaan

Dan ketenangan itu, kata banyak ulama, hanya muncul saat manusia kembali mengingat bahwa hidup ini sementara.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X