Kamis, 4 Juni 2026

Hidup di Dunia Hanya Sementara: Lalu Untuk Apa Kita Mengejarnya?

- Selasa, 4 November 2025 | 12:18 WIB
Bayangan mentari senja di atas jalan sepi — mengingatkan bahwa semua yang indah pun akan berlalu. Dunia hanya singgah, bukan rumah abadi. (Foto/Ilustrasi)
Bayangan mentari senja di atas jalan sepi — mengingatkan bahwa semua yang indah pun akan berlalu. Dunia hanya singgah, bukan rumah abadi. (Foto/Ilustrasi)

Ketika kesadaran itu hadir, hati mulai tenang. Seseorang yang sadar akan kefanaan dunia akan lebih ringan menjalani hidup. Ia tetap bekerja keras, tapi tak menuhankan hasil. Ia tetap berjuang, tapi tidak mengorbankan ketenangan batin.

3. Kisah Seorang Pedagang dan Kematian yang Menyadarkan

IFA.id pernah mengutip kisah seorang pedagang tua di Yaman. Setiap hari ia menulis “اليوم الأخير” (hari terakhir) di sudut bukunya sebelum memulai berdagang.
Suatu hari, seorang pembeli bertanya,

“Apakah Tuan sakit? Mengapa setiap hari menulis ‘hari terakhir’?”
Sang pedagang tersenyum dan menjawab lembut,

Baca Juga: Ekonomi Tumbuh, Iman Tersentuh: Filosofi ‘Kerja adalah Ibadah’ Menyentuh Generasi Muda

“Tidak, aku hanya mengingatkan diriku bahwa dunia ini sementara. Jika benar hari ini terakhirku, aku ingin jujur, ingin tenang, ingin meninggalkan kebaikan.”

Kisah itu sederhana tapi dalam. Ia menggambarkan kesadaran hidup yang tak banyak orang miliki. Kesadaran bahwa kematian bukan sesuatu yang jauh, melainkan janji pasti yang bisa tiba kapan saja.

4. Dunia Hanya Bayangan yang Pudar

Al-Qur’an menyebut dunia dengan istilah mata’ul ghurur — kesenangan yang menipu (QS. Al-Hadid: 20).

Artinya, dunia ini memang indah, tapi seperti bayangan. Semakin dikejar, semakin menjauh.
Bayangan hanya mengikuti cahaya. Maka siapa yang ingin bayangannya mendekat, harus mendekat kepada sumber cahayanya Allah.

Baca Juga: Hujan, Cinta, dan Keajaiban Waktu: Cerita Kecil Tentang Doa yang Dikabulkan

Inilah yang sering dilupakan banyak orang.Ketika seseorang mengalihkan cahaya hatinya ke dunia, maka bayangan dunia itu menipunya. Namun ketika ia kembali kepada Allah, barulah dunia itu mengikuti menjadi pelayan, bukan tuan.

5. Hidup Sementara, Tapi Bermakna

Sementara tidak berarti sia-sia.
Seperti tamu yang singgah, setiap detik di dunia bisa menjadi ladang pahala jika dijalani dengan niat yang benar.

Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda: “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara.”
(HR. Bukhari)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X