IFA.id – Pernah ada momen di mana hujan turun begitu lembut, seolah langit sedang berbicara dengan cara yang paling halus. Tidak ada suara petir, tidak ada badai, hanya rintik-rintik yang menenangkan.
Banyak orang mungkin melihatnya sekadar cuaca, tapi bagi sebagian lainnya, hujan adalah bahasa cinta yang dikirim dari langit.
Di sebuah sore di Yogyakarta, hujan datang tanpa permisi. Seorang gadis bernama Rani duduk di teras rumahnya, menatap derasnya air yang jatuh dari atap seng.
Sudah berbulan-bulan ia berdoa untuk satu hal: agar diberi kekuatan melepas seseorang yang ia cintai tapi tak bisa dimiliki. Dan sore itu, entah mengapa, ia tersenyum saat hujan turun.
“Lucu ya, setiap kali hujan datang, doa terasa lebih dekat,” katanya pelan.
Baca Juga: Dari Sawah ke Kota: Bagaimana Hujan Menjadi Sumber Kehidupan
Hujan dan Cinta: Dua Hal yang Tak Pernah Bisa Diprediksi
Seperti cinta, hujan datang tanpa aba-aba. Kadang terlalu deras, kadang hanya gerimis yang malu-malu. Tapi keduanya punya kesamaan: sama-sama meninggalkan bekas.
Rani mengingat, dulu ia dan Andra sering berjalan di bawah hujan. Tidak peduli sepatu basah, rambut lepek, atau baju yang menempel di tubuh karena bagi mereka, hujan bukan gangguan, tapi pertemuan.
Kini, saat Andra sudah menikah dengan orang lain, hujan justru menjadi pengingat yang menenangkan.
Bukan karena sedih, tapi karena di setiap tetes hujan, ada kenangan yang sudah disembuhkan oleh waktu.
Baca Juga: Bangun Pagi, Niat Suci: Begini Cara Menjadikan Pekerjaan Sebagai Ibadah
“Barangkali, begitulah cinta yang diberkahi. Ia tidak selalu harus dimiliki, tapi cukup dikenang dengan hati yang lapang,” tulis Rani di buku hariannya malam itu.
Artikel Terkait
Ikhtiar dan Doa: Dua Sayap untuk Terbang Menuju Keberkahan Hidup
Berkah Turunnya Hujan: Saat Langit Menyampaikan Doa yang Tak Terdengar
Setelah Hujan Reda, Rezeki Pun Mengalir: Fakta Menarik di Balik Cuaca Basah