IFA.id- 8 September 2025 menjadi tanggal penting bagi sejarah umat Islam Indonesia. Hari itu, Presiden menandatangani Keputusan Presiden yang melahirkan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia.
Kementerian ini lahir dari kebutuhan panjang: bagaimana melayani jutaan jemaah haji dan umrah Indonesia dengan cara yang lebih efisien, transparan, dan manusiawi.
Sebelumnya, pengelolaan haji berada di bawah Kementerian Agama melalui Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah. Namun, koordinasi yang rumit sering memunculkan masalah klasik: antrean panjang, birokrasi berbelit, hingga isu layanan di Tanah Suci.
Kini, dengan adanya kementerian khusus, pemerintah berjanji menghadirkan wajah baru dalam tata kelola ibadah terbesar umat Islam.
Dari BP Haji ke Kementerian
Sebelum menjadi kementerian, Indonesia lebih dulu memiliki Badan Penyelenggara Haji (BP Haji) pada 2024. Lembaga ini mencoba mengelola haji secara lebih fokus, tapi wewenangnya terbatas.
Lonjakan jumlah jemaah—dengan kuota lebih dari 241 ribu pada 2024—membuktikan bahwa tantangan terlalu besar jika hanya dikelola badan khusus. Tekanan publik pun meningkat: Indonesia butuh lembaga setingkat kementerian agar lebih kuat dalam diplomasi dengan Arab Saudi.
DPR kemudian mengesahkan RUU Haji dan Umrah pada 26 Agustus 2025, dan tak lama setelahnya Presiden meresmikan kementerian baru ini.
Baca Juga: Kementerian Haji dan Umrah 2025: Sejarah Baru Pelayanan Jemaah
Pemimpin Perdana: Mochamad Irfan Yusuf & Dahnil Anzar
Sejarah juga mencatat dua nama yang memimpin kementerian perdana ini: Mochamad Irfan Yusuf sebagai Menteri dan Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai Wakil Menteri.
Irfan adalah teknokrat berpengalaman yang sebelumnya menjabat Kepala BP Haji. Ia dikenal fokus pada reformasi teknis, terutama digitalisasi layanan.
Sementara Dahnil datang dari dunia politik dan aktivisme. Sosok komunikatif ini dipercaya bisa menjembatani kementerian dengan masyarakat, ormas Islam, dan biro travel.
Duet teknokrat dan politisi ini menciptakan kombinasi unik: satu mengurus dapur birokrasi, satu menjaga komunikasi publik. Publik pun menaruh harapan besar pada mereka.
Artikel Terkait
Kisah Masjid Ampel Surabaya, Pusat Dakwah Abad ke-15
Syekh Muhammad Yasin al-Fadani: Ahli Hadis Nusantara yang Mendunia
Mengapa Kita Sering Cemas Tanpa Alasan Jelas?
Budaya Sungkan yang Membunuh Keberanian Berpikir
Melatih Berani Salah, Karena Proses Membangun Diri Butuh Ruang Jatuh
Feodalisme Akademik antara Senior dan Dosen Selalu Benar, Mahasiswa Diharapkan Diam