Kamis, 4 Juni 2026

Feodalisme Akademik antara Senior dan Dosen Selalu Benar, Mahasiswa Diharapkan Diam

- Senin, 8 September 2025 | 22:24 WIB

IFA.ID--Fenomena feodalisme akademik sering muncul di dunia pendidikan tinggi. Ini adalah budaya di mana senioritas dan posisi dosen dianggap mutlak, sementara mahasiswa diarahkan untuk diam, menerima, dan tidak banyak bertanya. Akibatnya, ruang berpikir kritis menjadi sempit, dan kualitas akademik yang seharusnya tumbuh justru terhambat.Baca Juga: Melatih Berani Salah, Karena Proses Membangun Diri Butuh Ruang Jatuh

Feodalisme akademik terlihat nyata dalam praktik sehari-hari. Misalnya, mahasiswa enggan mengkritik materi kuliah, takut berbeda pendapat di forum seminar, atau merasa nilai dan akses riset hanya bisa didapat jika “dekat” dengan dosen. Bahkan dalam sidang skripsi atau tesis, terkadang mahasiswa hanya mendengar tanpa berani menanggapi, seolah-olah kritik adalah bentuk kurang ajar.

Budaya ini muncul dari berbagai akar penyebab. Pertama, warisan budaya hierarki di masyarakat yang menempatkan senioritas di atas argumen. Kedua, ketergantungan mahasiswa terhadap dosen dalam hal nilai, rekomendasi, hingga akses penelitian. Ketiga, mekanisme penilaian dan promosi yang cenderung menguntungkan pihak berkuasa. Keempat, minimnya saluran pengaduan yang aman membuat mahasiswa takut melapor bila mengalami ketidakadilan.Baca Juga: Budaya Sungkan yang Membunuh Keberanian Berpikir

Dampaknya jelas: mahasiswa kehilangan kesempatan untuk berlatih berpikir kritis, diskusi menjadi formalitas, dan keberanian intelektual tergerus. Dalam jangka panjang, budaya takut salah atau takut berbeda menjadikan kampus miskin gagasan. Bahkan, mahasiswa bisa mengalami tekanan psikologis karena hidup dalam ketakutan terhadap “otoritas akademik”.

Meski begitu, feodalisme akademik bukan berarti tidak bisa diubah. Mahasiswa dapat melatih cara menyampaikan kritik dengan data dan sikap hormat, mencari ruang diskusi alternatif, dan membangun solidaritas dengan sesama. Dosen juga punya peran besar dengan membuka ruang tanya, menghargai perbedaan pendapat, serta memberi penilaian secara transparan. Institusi perlu menyediakan mekanisme pengawasan yang kuat, evaluasi dosen secara berkala, dan saluran aduan yang aman.Baca Juga: Mengapa Kita Sering Cemas Tanpa Alasan Jelas?

Jika dibiarkan, feodalisme akademik hanya melahirkan lulusan yang patuh, bukan pemikir. Namun, jika berani diubah, kampus bisa menjadi ruang sehat tempat gagasan tumbuh, perdebatan berlangsung adil, dan mahasiswa benar-benar belajar menjadi manusia yang utuh.Baca Juga: Menciptakan Masyarakat yang Kritis dalam Bias Budaya

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X