lFA.id -- Setelah lebih dari 460 hari perang yang merusak Gaza, Israel dan kelompok Palestina Hamas akhirnya sepakat untuk menghentikan tembak-menembak.
Kesepakatan ini diumumkan oleh wakil dari Qatar, Israel, dan Amerika Serikat, setelah melalui negosiasi yang sangat intens.
Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, menyatakan pada hari Rabu bahwa penghentian tembakan ini akan mulai berlaku pada hari Minggu (19/1/2025), meskipun rincian pelaksanaannya masih dalam pembahasan.
Sejak perang dimulai pada bulan Oktober 2023, lebih dari 46.000 orang Palestina telah kehilangan nyawa mereka akibat serangan udara oleh Israel.
Diharapkan bahwa gencatan senjata ini bisa menghentikan kehancuran lebih lanjut di Gaza dan memberikan jalan keluar bagi para penyintas yang sudah lama menderita.
Tahap Pertama: Pembebasan Tahanan dan Penarikan Tentara
Tahap awal dari perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas meliputi beberapa langkah penting yang bertujuan untuk meredakan ketegangan dan memberikan bantuan untuk Gaza.
Baca Juga: Air Mata Bahagia dan Lega di Gaza: Perjanjian Genjatan Senjata Diterima dengan Sukacita
Salah satu langkah utama adalah menarik pasukan Israel sejauh 700 meter dari batas Gaza. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan situasi yang lebih aman bagi penduduk di daerah tersebut dan mengurangi peningkatan kekerasan.
Selain penarikan tentara, perjanjian ini juga mencakup pembebasan sekitar 2.000 tahanan Palestina oleh pihak Israel, termasuk 250 individu yang sedang menjalani hukuman seumur hidup.
Sebagai balasannya, kelompok Palestina akan membebaskan 33 sandera Israel yang telah ditangkap sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Baca Juga: Pencurian Jasad Nabi Muhammad: Lima Upaya yang Gagal Berkat Perlindungan Illahi
Pertukaran tahanan ini menjadi salah satu langkah penting untuk membangun kepercayaan antara kedua pihak. “Pertukaran ini akan melibatkan perempuan, anak-anak, dan warga sipil berusia lebih dari 50 tahun,” ungkap seorang pejabat Israel.