IFA.id - Ada satu percakapan sederhana yang sering terdengar di ruang belajar masa kini: seseorang membuka gawai, menatap layar penuh notifikasi, lalu bergumam, “Sudah belajar atau baru berniat belajar?”
Pertanyaan itu terdengar ringan, tapi di baliknya tersimpan realitas baru. Menuntut ilmu di era digital bukan lagi sekadar membuka buku, melainkan mengelola perhatian yang mudah tercabik oleh layar.
IFA.id melihat fenomena ini bukan hanya sebagai perubahan teknis, tapi juga perubahan batin, sebab belajar dalam Islam bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan ibadah yang dipenuhi adab, ketenangan, dan keberkahan.
Islam sejak awal menempatkan belajar sebagai ibadah bernilai tinggi. Ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad adalah “Iqra”, seruan untuk membaca, meneliti, dan memahami. Kata itu seperti cahaya yang membuka ribuan pintu pengetahuan.
Baca Juga: Ilmu sebagai Cahaya: Makna Mendalam Menurut Ulama
Namun kini, seruan membaca bertemu tantangan baru: kecepatan informasi, banjir konten, disrupsi perhatian, dan budaya instan. Bagaimana menuntut ilmu di dunia yang kiranya sudah terlampau bising?
Di titik inilah penting memahami kembali pandangan Islam tentang belajar, lalu menempatkannya dalam konteks digital.
Pada zaman klasik, para ulama belajar dengan perjalanan panjang. Mereka menempuh ratusan kilometer hanya demi satu hadis. Kini, sebuah hadis dapat diakses dalam hitungan detik. Sebuah kajian tafsir tersaji dalam bentuk video pendek.
Sebuah kitab tebal telah tersedia dalam aplikasi digital. Kemudahan ini luar biasa, tapi IFA.id mencatat bahwa kemudahan tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman. Ada generasi yang rajin mengoleksi materi belajar, namun jarang menuntaskannya.
Baca Juga: Belajar Sepanjang Hayat dalam Perspektif Islam
Ada pula yang tenggelam dalam ilusi “sudah paham” hanya karena menonton potongan video 30 detik. Di sinilah letak tantangannya: bukan kurangnya akses ilmu, melainkan kurangnya ketekunan.
Dalam Islam, ilmu membutuhkan kesabaran. Imam Syafi’i pernah menegaskan bahwa ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara: kecerdasan, semangat, sabar, bekal, bimbingan guru, dan waktu panjang.
Ketika semua orang bisa mengakses ilmu dengan cepat, budaya “ingin cepat menguasai banyak hal” justru sering merusak kualitas.
Seolah semua harus instan: belajar instan, hafalan instan, pemahaman instan. Padahal tradisi ulama tidak mengenal jalan pintas. Ilmu ibarat pohon: hanya tumbuh besar bila akarnya meresap dalam.