Abdurrahman bin Harits bin Hisyam
Tim ini diberi tugas menyalin Al-Qur’an berdasarkan mushaf yang dimiliki Hafshah binti Umar. Mereka diminta untuk menulis dengan bahasa Quraisy jika ada perbedaan karena Al-Qur’an diturunkan dalam dialek Quraisy.
Penyebaran Mushaf Utsmani Setelah mushaf disusun, Utsman membuat beberapa salinan dan mengirimkannya ke kota-kota besar seperti:
-
Mekah
-
Madinah
-
Kufah
-
Basrah
-
Syam
Masing-masing mushaf disertai dengan qari (pembaca Al-Qur’an) yang bertugas mengajarkan bacaan yang benar.
Pembakaran Mushaf Lain Untuk menjaga keseragaman dan mencegah kekacauan bacaan, Utsman memerintahkan agar mushaf-mushaf pribadi yang berbeda dari versi resmi dibakar. Keputusan ini dilakukan demi kepentingan umat secara keseluruhan.
Dampak dan Keberhasilan KodifikasiBaca Juga: Sejarah Khalifah Abu Bakar: Pemimpin Pertama Setelah Nabi
-
Standarisasi Ilmu Tajwid dan Qira’at: Menjadi dasar dalam pengembangan ilmu-ilmu terkait bacaan Al-Qur’an.
-
Awal dari Ilmu Ulumul Qur’an: Kodifikasi ini mendorong munculnya disiplin ilmu untuk menjaga dan memahami Al-Qur’an secara ilmiah.
Mengapa Tindakan Utsman Tidak Dipermasalahkan?
Beberapa orang bertanya-tanya, mengapa tindakan Utsman yang memerintahkan pembakaran mushaf tidak dianggap merusak Al-Qur’an?
Jawabannya adalah karena tindakan tersebut tidak mengubah isi wahyu, justru untuk menjaga orisinalitasnya. Mushaf yang dibakar adalah salinan tidak resmi, yang mungkin memiliki susunan berbeda atau ditulis berdasarkan ingatan individu. Sedangkan mushaf Utsmani disusun dari sumber sahih dengan metode kolektif, sehingga lebih akurat.