Jumat, 17 Juli 2026

Fathu Makkah: Penaklukan Mekah Tanpa Pertumpahan Darah

- Rabu, 16 April 2025 | 19:22 WIB
Fathu Makkah: Penaklukan Mekah Tanpa Pertumpahan Darah (Foto/Pinterest.)
Fathu Makkah: Penaklukan Mekah Tanpa Pertumpahan Darah (Foto/Pinterest.)

 

IFA.id -- Fathu Makkah atau Penaklukan Kota Mekah adalah salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam. \

Bukan hanya karena kemenangan besar yang diraih oleh kaum Muslimin, tapi juga karena cara Nabi Muhammad SAW menaklukkannya: tanpa pertumpahan darah, tanpa pembalasan dendam, dan penuh dengan ampunan.

Apa Itu Fathu Makkah?

Fathu Makkah adalah momen ketika Nabi Muhammad SAW bersama 10.000 pasukan Muslim memasuki Kota Mekah pada tahun ke-8 Hijriah (630 Masehi) tanpa perlawanan berarti dari kaum Quraisy. Meski disebut sebagai "penaklukan", peristiwa ini berlangsung damai. Tidak ada perang terbuka atau pertumpahan darah besar. Sebaliknya, Nabi SAW memaafkan musuh-musuh lamanya dan menyerukan perdamaian.

Latar Belakang Fathu Makkah

Untuk memahami Fathu Makkah, kita perlu melihat situasi sebelum peristiwa ini terjadi:

1. Perjanjian Hudaibiyah

Tahun 6 Hijriah, Nabi SAW dan kaum Muslimin melakukan perjanjian damai dengan Quraisy yang dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah. Salah satu poin pentingnya adalah kesepakatan gencatan senjata selama 10 tahun antara kedua belah pihak. Namun, dua tahun kemudian, suku sekutu Quraisy (Bani Bakr) menyerang suku sekutu Muslim (Bani Khuza'ah), yang merupakan pelanggaran langsung terhadap perjanjian.

2. Pengkhianatan dan Seruan Keadilan

Suku Bani Khuza'ah meminta bantuan kepada Rasulullah. Mendengar kabar pengkhianatan ini, Rasulullah SAW segera memutuskan untuk memimpin ekspedisi menuju Mekah sebagai bentuk respon terhadap pelanggaran perjanjian tersebut. Namun, beliau melakukannya dengan strategi cermat dan penuh perhitungan agar tidak terjadi pertumpahan darah.

Baca Juga: Depresi dalam Islam: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Strategi Nabi Muhammad SAW dalam Fathu Makkah

Rasulullah SAW memilih strategi penyergapan damai yang penuh rahasia:

  • Pasukan besar: Beliau mengerahkan sekitar 10.000 prajurit dari berbagai suku Muslimin. Jumlah ini sangat besar dan memberi efek gentar kepada pihak Quraisy.

  • Pendekatan damai: Tidak ada deklarasi perang terbuka. Bahkan, beberapa kelompok Quraisy diberi jaminan keamanan.

  • Taktik mengejutkan: Pasukan bergerak cepat dan mengepung Mekah dari berbagai arah sehingga kaum Quraisy tidak memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan perlawanan.

Momen Puncak Fathu Makkah

Ketika Nabi Muhammad SAW dan pasukannya mendekati Mekah, kota itu takluk tanpa perlawanan besar. Abu Sufyan, salah satu tokoh Quraisy yang awalnya menentang Islam, akhirnya menyatakan keislamannya. Rasulullah bahkan menyatakan bahwa siapa pun yang berada di rumah Abu Sufyan akan aman, begitu pula yang tinggal di rumah masing-masing dan di Masjidil Haram.

Masuknya Nabi ke Kota Mekah

Dengan penuh kerendahan hati, Nabi Muhammad SAW memasuki Mekah dengan menundukkan kepalanya, bukan dalam euforia kemenangan. Beliau mengendarai unta sambil membaca ayat-ayat Al-Qur’an sebagai bentuk syukur kepada Allah.

Baca Juga: Menjaga Hati dari Iri dan Dengki untuk Kesehatan Mental

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Catatan Seorang Pengamat Kehidupan

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:49 WIB

Sedekah Anak Yatim: Pintu Rezeki yang Jarang Disadari

Kamis, 27 November 2025 | 09:56 WIB

Terpopuler

X