news

Perjanjian Gencatan Senjata antara Israel dan Hamas di Gaza, Mengakhiri Konflik yang Terkonsolidasi Selama Lebih dari 460 Hari

Kamis, 16 Januari 2025 | 17:14 WIB
Ilustrasi Jalur Gaza ((Freepik))

lFA.id -- Israel dan Hamas telah mencapai kesepakatan gencatan senjata setelah lebih dari 460 hari konflik yang menghancurkan Gaza, Palestina. Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, menyatakan bahwa perjanjian tersebut akan mulai berlaku pada Minggu, 19 Januari 2025.

Gencatan senjata ini, yang merupakan penghentian sementara dari pertempuran, akan membuat kedua belah pihak sepakat untuk menghentikan agresi satu sama lain. Menurut laporan dari Associated Press pada 15 Januari 2025, gencatan senjata ini bertujuan untuk mengakhiri kehancuran yang terjadi di Gaza.

Kesepakatan ini dibagi dalam tiga tahap, dimulai dengan pembebasan 33 tawanan yang terdiri dari perempuan, anak-anak, orang tua, dan warga sipil yang terluka.

Baca Juga: Kisah di Balik Tirai Pesantren: Perjuangan Santri dalam Menyemai Ilmu hingga Berkontribusi untuk Bangsa

Tahap Pertama Gencatan Senjata

Gaza Pada tahap awal gencatan senjata di Gaza yang dimulai pada hari Minggu (19/1/2025), akan berlangsung selama enam minggu dan memfasilitasi pembicaraan untuk mengakhiri konflik.

Pada fase ini, akan ada pertukaran terbatas bagi tahanan, pengurangan jumlah pasukan Israel di Gaza, serta pengiriman bantuan ke wilayah tersebut. Sebanyak 33 tahanan dari Israel, termasuk perempuan, anak-anak, dan warga sipil berusia lebih dari 50 tahun yang ditangkap selama serangan yang dilakukan Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023, akan dibebaskan.

Sebagai balasannya, Israel akan melepaskan lebih banyak tahanan Palestina selama periode ini, termasuk mereka yang sedang menjalani vonis seumur hidup.

Baca Juga: Sejarah Konflik Hamas dengan Israel: Perjalanan Kekerasan yang Berkelanjutan

Di antara warga Palestina yang dibebaskan, terdapat sekitar seribu individu yang sebelumnya ditahan setelah kejadian pada 7 Oktober 2023.

Selaras dengan pertukaran tahanan ini, Israel berencana untuk menarik pasukannya dari area berpenduduk di Gaza ke lokasi yang berjarak tidak lebih dari 700 meter dari garis perbatasan antara Gaza dan Israel.

Namun, kemungkinan besar Koridor Netzarim, zona militer yang memisahkan bagian utara dan selatan Gaza dan diatur oleh Israel, tidak akan tercakup dalam penarikan tersebut.

Baca Juga: Menggali Inspirasi dari Sosok Bilal bin Rabah: Perjuangan Seorang Muazzin dengan Keteguhan Iman di Tengah Penyiksaan

Diharapkan penarikan pasukan Israel dari Koridor Netzarim akan dilakukan secara bertahap. Selama periode gencatan senjata tahap pertama di Gaza, Israel akan membolehkan warga sipil untuk kembali ke rumah mereka di daerah Gaza utara yang terperangkap.

Halaman:

Tags

Terkini

Catatan Seorang Pengamat Kehidupan

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:49 WIB

Sedekah Anak Yatim: Pintu Rezeki yang Jarang Disadari

Kamis, 27 November 2025 | 09:56 WIB