IFA.id- Setiap kementerian baru selalu menghadirkan rasa penasaran: siapa yang dipercaya untuk menakhodai, dan seperti apa visi yang mereka bawa? Ketika Presiden meresmikan Kementerian Haji dan Umrah pada 8 September 2025, pertanyaan itu langsung terjawab. Dua nama diumumkan: Mochamad Irfan Yusuf sebagai Menteri, dan Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai Wakil Menteri.
Duet ini langsung menyita perhatian publik. Sebab, keduanya datang dari latar yang berbeda: satu teknokrat, satu politisi. Gabungan yang tak biasa, tapi justru dianggap bisa saling melengkapi.
Mochamad Irfan Yusuf: Dari BP Haji ke Kursi Menteri
Bagi yang mengikuti dinamika haji-umrah sejak 2024, nama Mochamad Irfan Yusuf tentu tak asing. Ia adalah Kepala Badan Penyelenggara Haji (BP Haji), lembaga yang menjadi cikal bakal lahirnya kementerian baru.
Sosok ini dikenal sebagai birokrat teknis yang jarang tampil di panggung politik, tetapi fokus pada reformasi. Di bawah kepemimpinannya, BP Haji mulai mengembangkan digitalisasi pendaftaran jemaah dan sistem informasi kesehatan haji.
Banyak pengamat menyebut, Irfan adalah pilihan logis untuk menjadi menteri. Ia sudah terbiasa dengan keruwetan teknis haji: mulai dari distribusi katering di Mina, koordinasi transportasi bus antar kota, hingga negosiasi teknis dengan otoritas Saudi.
Visinya jelas: efisiensi dan transparansi. Irfan berkali-kali menegaskan bahwa kementerian baru ini tidak boleh jadi beban birokrasi tambahan, tapi justru harus memangkas jalur administrasi.
Dahnil Anzar Simanjuntak: Politisi dan Komunikator
Berbeda dengan Irfan, nama Dahnil Anzar lebih familiar di ruang publik. Sebelum menjabat wakil menteri, ia adalah politikus, akademisi, dan mantan juru bicara presiden.
Dahnil dikenal sebagai sosok komunikatif dan kritis. Latar belakangnya sebagai aktivis mahasiswa membuatnya terbiasa bicara lantang tentang isu keumatan. Kini, sebagai Wamen Haji dan Umrah, perannya lebih banyak di ranah komunikasi: menjembatani kementerian dengan masyarakat, ormas Islam, hingga organisasi travel.
IFA.id mencatat, penunjukan Dahnil dipandang strategis. Ia bisa menjadi “wajah publik” kementerian, yang memastikan kebijakan teknis tak hanya berjalan di atas kertas, tapi juga dipahami masyarakat.
Baca Juga: Haji Syamsalis dan Sukses Sabana Fried Chicken: Bisnis Ayam Goreng Halal Berkembang Pesat
Artikel Terkait
Irwan Barudi: Dari Akuntan CFC ke Pendiri 300+ Gerai Ayam Geprek Sa'i dan Haji Chicken
BPKH Limited Kirim 475 Ton Bumbu Khas Indonesia untuk Jemaah Haji di Arab Saudi
Kemenag Sumbar Manfaatkan Kuota Haji Tak Terpakai untuk Calon Jemaah Cadangan
Dukungan Keluarga Haji Isam untuk KFC (FAST): Strategi Baru Grup Salim dan Gelael Tingkatkan Keuntungan
Haji dan Umrah: Menggali Makna Filosofis dari Setiap Rukun dan Tahapan Ibadah.
Menuju Baitullah : Pelajaran Hidup dari Perjalanan Haji