IFA.id mencatat, kata hijrah sering dikaitkan dengan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Namun, di era digital, makna hijrah menemukan relevansi baru: bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan perubahan gaya hidup menuju kebaikan, di tengah derasnya arus teknologi dan media sosial.
Pernahkah terasa sulit menjaga hati tetap bersih ketika gawai selalu menggoda dengan notifikasi? Di sinilah hijrah mendapat makna mendalam.
Hijrah berarti menata kembali prioritas, dari sekadar konsumsi digital menuju konsumsi yang lebih menyehatkan jiwa. Misalnya, memilih konten Islami yang menenangkan hati dibanding hiburan kosong yang melalaikan.
Baca Juga: KH. Hasyim Muzadi: Ulama yang Lantang Lawan Korupsi
IFA.id merangkum bahwa hijrah digital bisa dimulai dari hal kecil: menjaga lisan melalui jari, karena satu status bisa menjadi doa, atau sebaliknya, bisa melukai.
Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa siapa yang beriman hendaklah berkata baik atau diam. Dalam konteks digital, itu berarti menahan diri dari komentar kasar, menyebar hoaks, atau konten yang menjerumuskan.
Hijrah juga berarti meninggalkan kebiasaan lama yang tidak produktif, lalu menggantinya dengan aktivitas bermanfaat. Alih-alih scroll tanpa arah, hijrah bisa diwujudkan dengan mengikuti kajian online, membaca e-book Islami, atau berdiskusi di forum yang menambah iman.
Di sisi lain, hijrah di era digital menuntut kebijaksanaan. Tidak jarang ada tren “hijrah instan” yang hanya tampak di luar, misalnya sekadar mengubah tampilan profil media sosial. Padahal, hijrah sejati adalah perubahan hati dan niat, yang kemudian memancar dalam amal perbuatan.
Baca Juga: Kolaborasi KPK dan Ulama: Strategi Membangun Budaya Antikorupsi
IFA.id menekankan, hijrah adalah proses panjang, bukan perlombaan cepat. Setiap langkah kecil menuju kebaikan, meski sederhana, adalah bagian dari hijrah. Bahkan, memilih tidur lebih awal agar bisa bangun tahajud pun merupakan bentuk hijrah kecil yang sangat bernilai.
Akhirnya, makna hijrah di era digital adalah tentang bagaimana umat Islam menjadikan teknologi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebaliknya.
Hijrah bukan hanya berpindah tempat, melainkan berpindah nilai: dari gelap menuju cahaya, dari lalai menuju taat, dari sibuk dengan dunia menuju seimbang antara dunia dan akhirat.
Artikel Terkait
Mengapa Sholat adalah Pondasi Kehidupan Sehari-hari
Tren Kesadaran Sholat di Indonesia
Konsep Jiwa dalam Psikologi dan Perspektif Islam
Mengapa Kita Sering Cemas Tanpa Alasan Jelas?
Diskusi yang Dimatikan: Mengapa Berbeda Pendapat Dianggap Musuh?