ibrah

Seni Mencintai Diri dalam Islam tanpa Jadi Egois

Jumat, 21 November 2025 | 21:26 WIB
Merenungi makna mencintai diri dalam Islam, menemukan keseimbangan antara ketenangan batin dan tanggung jawab sebagai hamba. (Foto/Ilustrasi)

Namun ketenangan tidak muncul begitu saja. Ia dibangun dari cara seseorang memperlakukan dirinya. Bila seseorang memaksa diri melebihi batas, mengabaikan kebutuhan mental dan emosional, maka yang muncul adalah kelelahan, mudah marah, gelisah, hingga kehilangan tujuan.

Dalam perspektif itu, self-love bukanlah kemewahan, tetapi kebutuhan.

Batasan Self-Love: Tidak Boleh Melupakan Orang Lain

Di titik ini, muncul kekhawatiran: jangan-jangan mencintai diri membuat seseorang menjadi egois?

IFA.id memahami kekhawatiran itu. Islam memberi garis jelas. Self-love yang benar tidak pernah menyingkirkan cinta kepada orang lain.

Baca Juga: Cara Islam Menguatkan Mental di Tengah Hidup yang Berat

Islam mengajarkan keseimbangan. Ada hak tubuh. Ada hak keluarga. Ada hak sahabat. Ada hak ibadah. Ada hak masyarakat.

Nabi pernah mengingatkan seseorang yang berlebihan beribadah sampai melelahkan tubuhnya. Beliau berkata bahwa tubuh punya hak, mata punya hak, keluarga punya hak.

Dari sini terlihat bahwa self-love bukan tentang mendahulukan diri di atas segalanya, tetapi memberi setiap hak porsi yang adil.

Bahaya muncul jika self-love dijadikan pembenaran untuk menghindari tanggung jawab: tidak mau menolong, tidak mau berkorban, atau merasa paling penting. Itu bukan self-love dalam Islam, itu hanya topeng dari keegoisan.

Baca Juga: Rahasia Tenang Hati dalam Islam untuk Kesehatan Mental

Sabar dan Syukur: Dua Pilar Self-Love Islami

Sabar membuat seseorang menerima kelemahannya dengan lembut. Syukur membuat seseorang menghargai kelebihannya tanpa sombong.

Keduanya membuat self-love menjadi seimbang, tidak miring ke arah perfeksionisme atau ke arah permisif. Sabar menjauhkan dari keinginan untuk memaksa diri menjadi sempurna. Syukur menjauhkan dari rasa minder berlebihan.

Dengan dua nilai itu, seseorang lebih mudah berkata pada dirinya:
“Ada hari ketika kuat, ada hari ketika rapuh. Keduanya sama-sama ciptaan Allah.”

Halaman:

Tags

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB