-
Ia adalah rahmat bagi bumi yang haus.
-
Ia adalah peringatan bagi manusia yang lupa diri.
-
Ia adalah penghapus dosa bagi mereka yang bersabar.
-
Ia adalah panggilan lembut agar manusia kembali kepada Sang Pemilik Alam.
Ketika air menggenang dan langit tak berhenti menangis, jangan terburu-buru menyalahkan alam. Mungkin alam sedang berzikir, sementara manusia baru belajar memahami artinya.
Baca Juga: Budaya Syirik Terselubung: Mengapa Masih Dipertahankan?
Sujud di Bawah Rintik
Hujan akan berhenti. Banjir akan surut. Tapi hikmah dari setiap peristiwa tidak akan hilang.
Setiap tetes air membawa pesan yang sama: bahwa manusia tidak pernah benar-benar berkuasa.
Bahwa hidup ini hanya sejenak, dan segala yang ada di bumi pasti kembali kepada-Nya.
Jadi, di bawah rintik hujan, sebelum air mata bercampur dengan air langit, sempatkanlah satu sujud. Sujud yang panjang, tulus, dan penuh syukur—karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum segalanya hanyut bersama waktu.
Doa Penutup
اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ وَاحْفَظْنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ، وَارْزُقْنَا شُكْرَ النِّعْمَةِ وَالصِّبْرَ عِنْدَ الْبَلِيَّةِ
Allahumma ij‘alna minas shabirin, wahfazna minal fitani wal mihani, warzuqna syukran ni‘mah wa shabra ‘indal baliyyah
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang sabar, lindungilah kami dari fitnah dan bencana, karuniakanlah kami syukur atas nikmat dan kesabaran saat musibah.”
Artikel Terkait
Ketika Tradisi Bertentangan dengan Tauhid
Budaya yang Tak Disadari Melanggar Syariat
Antara Adat dan Ibadah: Di Mana Batasnya?
Meluruskan Tradisi: Islam Melawan Kebiasaan Jahiliyah Modern