Kamis, 4 Juni 2026

Meluruskan Tradisi: Islam Melawan Kebiasaan Jahiliyah Modern

- Jumat, 31 Oktober 2025 | 16:25 WIB
Meluruskan Tradisi: Islam Melawan Kebiasaan Jahiliyah Modern (Foto/Ilustrasi)
Meluruskan Tradisi: Islam Melawan Kebiasaan Jahiliyah Modern (Foto/Ilustrasi)

IFA.Id - Dalam sejarah manusia, setiap zaman memiliki wajah jahiliyahnya sendiri. Jika dahulu jahiliyah identik dengan penyembahan berhala dan kesukuan yang sempit, kini bentuknya berubah menjadi gaya hidup modern yang menjauhkan manusia dari nilai ketauhidan. Fenomena ini menegaskan bahwa jahiliyah tidak mati, hanya berganti rupa.

IFA.id mencatat bahwa kebiasaan jahiliyah modern sering tersembunyi dalam budaya populer yang tampak seolah netral. Padahal, di balik layar glamornya, tersimpan nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam: kesombongan, materialisme, dan hedonisme. Banyak masyarakat tanpa sadar mempraktikkan budaya ini atas nama kebebasan dan kemajuan.

Islam datang bukan sekadar untuk memerangi berhala batu, tetapi juga berhala hawa nafsu. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa bentuk syirik yang paling halus adalah ketika manusia lebih mencintai dunia daripada kebenaran. Jahiliyah modern justru tumbuh dari rasa ingin diakui dan disanjung, yang menjelma dalam bentuk gaya hidup konsumtif, ajang pamer di media sosial, dan obsesi terhadap penampilan luar.

Budaya pamer kekayaan di media sosial misalnya, menjadi simbol nyata dari jahiliyah baru. Dalam Islam, riya dan takabbur termasuk dosa besar. Namun kini, banyak yang menganggapnya lumrah—bahkan dijadikan sumber kebanggaan. Fenomena ini menunjukkan betapa nilai jahiliyah kini menyusup dengan halus ke dalam sistem sosial modern.

Baca Juga: Antara Adat dan Ibadah: Di Mana Batasnya?

IFA.id melansir sejumlah pandangan ulama kontemporer yang menilai bahwa jahiliyah tidak selalu berarti kebodohan, tetapi juga penolakan terhadap petunjuk Allah. Artinya, seseorang bisa berpendidikan tinggi namun tetap terjerumus dalam perilaku jahiliyah ketika ia menolak nilai kebenaran. Di sinilah Islam hadir untuk meluruskan, bukan memusuhi, tetapi mengembalikan manusia kepada fitrahnya.

Ciri khas jahiliyah modern lainnya adalah penyembahan terhadap popularitas dan kekuasaan. Banyak orang rela mengorbankan prinsip demi menjadi viral. Media menjadi “berhala” baru, di mana nilai diukur dari jumlah pengikut, bukan kebenaran isi. Padahal, dalam Islam, ukuran kemuliaan bukanlah ketenaran, melainkan takwa.

Islam menolak kebiasaan yang menindas perempuan, merendahkan martabat manusia, atau menjadikan kelas sosial sebagai tolok ukur kehormatan. Namun di banyak tempat, bias jahiliyah masih bertahan. Misalnya, praktik diskriminasi terhadap perempuan atau buruh yang dianggap rendah derajatnya. Padahal, Rasulullah SAW menegaskan, “Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab kecuali karena takwa.”

Budaya patriarki ekstrem juga merupakan warisan jahiliyah. Islam menempatkan perempuan sebagai mitra sejajar dalam tanggung jawab spiritual dan sosial. Namun sebagian masyarakat justru melestarikan tafsir sempit yang mengekang perempuan, seolah-olah agama membenarkan ketidakadilan itu. Padahal, dalam sejarah Islam, banyak perempuan berilmu dan pemimpin yang dihormati—dari Aisyah r.a. hingga Rabi’ah al-Adawiyah.

Baca Juga: Guru Sebagai Jalan Pahala: Mengajar dan Belajar dalam Timbangan Ibadah

Jahiliyah modern juga bisa hadir dalam bentuk ekstremisme agama. Saat sebagian kelompok menggunakan agama untuk membenarkan kekerasan, mereka sebenarnya tengah mempraktikkan kebiasaan jahiliyah yang dibungkus simbol religius. Islam datang untuk membawa rahmat, bukan kebencian. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

IFA.id mencatat bahwa benturan antara tradisi dan Islam sering kali terjadi karena masyarakat tidak membedakan antara nilai budaya dan ajaran wahyu. Tradisi yang baik, seperti gotong royong, silaturahmi, dan menghormati tamu, adalah bagian dari ajaran Islam. Tapi tradisi yang menjerumuskan ke kesyirikan, kekerasan, atau kesombongan, termasuk dalam kategori jahiliyah.

Dalam konteks global, jahiliyah modern juga bisa dilihat pada budaya konsumsi berlebihan dan eksploitasi alam. Islam menekankan keseimbangan—tidak boros, tidak serakah. Rasulullah SAW mengajarkan kesederhanaan sebagai bentuk kecerdasan spiritual. Namun gaya hidup modern justru menuhankan keinginan tanpa batas, hingga manusia kehilangan rasa cukup.

Salah satu kunci melawan jahiliyah modern adalah pendidikan berbasis tauhid. Islam menanamkan kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi spiritual. Dengan tauhid, manusia tidak lagi menjadikan dunia sebagai pusat kehidupan, melainkan Allah sebagai tujuan akhir.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X