Kamis, 4 Juni 2026

Dari Pagi yang Berkah di Pesantren: Cahaya Santri Menyapa Negeri

- Senin, 20 Oktober 2025 | 11:37 WIB
Cahaya Santri Menyapa Negeri (Foto/Ilustrasi)
Cahaya Santri Menyapa Negeri (Foto/Ilustrasi)

IFA.id - Fajar baru saja menampakkan sinarnya di langit timur. Kabut tipis masih menggantung di atas pepohonan, sementara di halaman pesantren, barisan santri mulai berdiri rapi. Dengan sarung yang masih berbau wangi sabun, mereka menunggu dimulainya upacara Hari Santri Nasional 2025. Udara terasa sejuk, menenangkan, seolah seluruh alam ikut bertasbih menyambut hari suci bagi para penuntut ilmu agama itu.

Suara lantunan ayat Al-Qur’an mengalun lembut dari pengeras suara. Dari surah Yasin hingga doa kebangsaan, semua dibaca dengan khusyuk. Setiap kata yang keluar dari bibir santri seakan membawa keberkahan tersendiri — seakan langit ikut mendengarkan, bumi ikut bersujud, dan seluruh semesta mengamini doa-doa mereka untuk negeri tercinta.

Di Pesantren Nurul Huda, Lombok Timur, para santri perempuan menata bunga melati di pelataran musala. Sementara di sisi lain, para santri laki-laki menyiapkan bendera merah putih. Tidak ada yang berteriak, tidak ada yang terburu-buru. Semua dilakukan dengan adab, dengan senyum yang tulus, seperti kebiasaan santri: tenang tapi bermakna.

Ketika matahari mulai naik, upacara dimulai. Bendera Merah Putih berkibar perlahan diiringi lagu “Ya Lal Wathan” yang menggema di seluruh penjuru pesantren. Dalam suara yang bersatu itu, tersimpan cinta mendalam — cinta santri kepada Indonesia, cinta yang diajarkan para ulama sejak masa perjuangan melawan penjajah.

Baca Juga: Makna Barzanji di Pesantren: Ketika Syair Menjadi Zikir

“Santri bukan hanya pembaca kitab, tapi juga pembaca zaman,” ucap KH. Ahmad Rifa’i dalam sambutannya. “Mereka yang menjaga agama, tapi juga menjaga bangsa dari lupa dan lalai.” Kalimat itu menancap kuat di hati setiap santri. Mereka sadar, menjadi santri bukan hanya belajar tentang surga, tapi juga bagaimana menebarkan rahmat di dunia.

Usai upacara, suasana berubah hangat. Para santri berkumpul di bawah rindangnya pohon mangga, berbagi sarapan sederhana: nasi bungkus dan teh hangat. Mereka tertawa kecil, saling bercanda, dan sesekali mengingatkan teman yang belum salat dhuha. Di balik kesederhanaan itu, tersimpan ketenangan batin yang jarang ditemukan di tempat lain.

Tak hanya di Lombok, gema doa dan shalawat juga terdengar di berbagai pesantren di Indonesia. Dari Aceh hingga Papua, semua menyatukan hati dalam lantunan dzikir yang sama. Hari Santri bukan sekadar peringatan, tapi tali yang mengikat seluruh anak bangsa — bahwa keberkahan negeri ini lahir dari doa-doa mereka yang tak pernah putus.

Di dunia maya, suasana juga terasa damai. Para netizen membagikan potret santri yang sedang bersujud, mengaji, dan tersenyum dalam balutan busana putih. Unggahan itu viral, bukan karena glamor, tapi karena kesederhanaan yang menyentuh hati. Dunia digital seakan ikut terhanyut dalam keteduhan pesantren.

Baca Juga: Ngaji dan Ngopi: Tradisi Pesantren yang Menyatukan Ilmu dan Kehangatan

Sore harinya, ketika azan asar berkumandang, pesantren kembali hening. Beberapa santri menulis refleksi di buku harian mereka. “Menjadi santri adalah cara kami mencintai negeri,” tulis salah satu di antaranya. Kalimat sederhana, tapi sarat makna.

Hari Santri 2025 menjadi saksi bahwa dari kesunyian pesantren, lahirlah cahaya yang menyinari bangsa. Cahaya itu tak menyilaukan, tapi menenangkan. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah teriakan di jalanan, melainkan ketulusan hati yang berdoa di sepertiga malam. Dari pagi yang berkah di pesantren, santri terus menyapa negeri — dengan cinta, ilmu, dan doa yang tak pernah padam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X