IFA.id - Ada seorang pedagang kecil di Yogyakarta. Setiap pagi, sebelum membuka lapak, ia selalu berwudhu, lalu menunaikan dua rakaat sholat dhuha.
Awalnya, hanya karena mengikuti nasihat ustaz kampung: “Sholat dhuha itu pembuka rezeki.” Tapi entah bagaimana, sejak saat itu, pelanggan makin ramai, dagangan makin cepat habis.
“Yang dulu sepi, tiba-tiba ramai. Kadang bingung sendiri, tapi hati tenang,” ujarnya sambil tersenyum.
Cerita seperti ini bukan satu-dua. Dari pedagang kaki lima sampai profesional muda di kota besar, banyak yang mengaku merasakan keajaiban serupa. Sholat dhuha bukan sekadar ibadah sunah, tapi sumber energi rezeki yang jarang benar-benar disadari.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Orang yang Merasakan Perubahan Hidup lewat Puasa Senin Kamis
Sholat dhuha adalah ibadah sunah yang dilakukan setelah matahari terbit hingga menjelang waktu zuhur. Waktu terbaiknya sekitar pukul 07.00–10.00 pagi, ketika sinar matahari mulai hangat dan tubuh baru saja pulih dari istirahat malam.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: “Di setiap persendian salah seorang dari kalian terdapat sedekah. Maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan mencukupi dari semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang pada waktu dhuha.” (HR. Muslim)
Dari sini, IFA.id mencatat bahwa sholat dhuha bukan hanya simbol syukur atas nikmat pagi, tapi juga representasi sedekah dalam bentuk spiritual. Setiap gerakan dhuha adalah bentuk syukur atas tubuh, waktu, dan kesempatan hidup yang masih diberikan.
Banyak orang menganggap rezeki hanya datang dari kerja keras. Padahal, dalam Islam, kerja keras adalah wasilah, sedangkan keberkahan rezeki datang dari Allah. Sholat dhuha menjadi salah satu jembatan spiritual untuk membuka pintu keberkahan itu.
Baca Juga: Menghadapi Tantangan Puasa Senin Kamis: Tips Mengatasi Lapar dan Kantuk
Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Allah berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat rakaat di awal siang, niscaya Aku akan cukupkan rezekimu di sore hari.” (HR. Abu Dawud)
Makna “Aku akan cukupkan rezekimu” bukan hanya soal uang atau materi, tapi juga kecukupan hati. Rezeki bisa berupa kemudahan urusan, pertemuan baik, ide segar, hingga ketenangan batin.
IFA.id menemukan banyak testimoni serupa di komunitas Muslim profesional Indonesia. Salah satunya datang dari seorang karyawan start-up di Jakarta: “Dulu tiap pagi langsung buka laptop, tapi sekarang mulai dengan dhuha dulu. Anehnya, pekerjaan yang biasanya bikin stres malah terasa lancar.”
Artikel Terkait
Keberkahan Bisnis Umroh: Antara Amanah, Niat, dan Peluang Pahala
Umroh Bersama Keluarga: Menyulam Cinta di Tanah Suci
Kisah Inspiratif Orang yang Merasakan Perubahan Hidup lewat Puasa Senin Kamis