IFA.id – Setiap keluarga punya caranya sendiri untuk memperkuat cinta. Ada yang berlibur ke pegunungan, ada yang ke pantai, tapi bagi sebagian keluarga Muslim, tidak ada yang lebih bermakna daripada berumroh bersama ke tanah suci.
Dalam setiap langkah menuju Ka’bah, terselip rasa haru: inilah perjalanan bukan untuk dunia, tapi untuk menyiapkan bekal akhirat bersama orang-orang tercinta.
“Ketika melihat anak saya ikut thawaf di samping saya, saya menangis,” kata Farhan (45), jamaah asal Semarang.
“Rasanya seperti melihat doa yang dulu saya panjatkan kini berjalan di depan mata.”
IFA.id menulis, umroh keluarga bukan sekadar ritual bersama, tapi perjalanan yang menyatukan hati dalam satu arah — menuju Allah.
Baca Juga: Keberkahan Bisnis Umroh: Antara Amanah, Niat, dan Peluang Pahala
Bagi anak-anak, umroh menjadi pengalaman yang menanamkan nilai keimanan sejak kecil.
Melihat Ka’bah untuk pertama kali, mendengar takbir di Masjidil Haram, dan mencium Hajar Aswad adalah pengalaman yang membekas seumur hidup.
“Anak saya masih kecil, tapi dia bilang, ‘Ayah, aku ingin ke sini lagi nanti kalau besar,’” cerita Rina Fatimah, ibu dua anak yang baru pulang dari Makkah.
IFA.id menulis, umroh adalah sekolah iman yang tidak diajarkan di ruang kelas, tapi dirasakan langsung di jantung spiritual dunia Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
“Ajarkan anak-anakmu salat ketika mereka berumur tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud)
Dan membawa mereka ke tanah suci adalah bentuk pengajaran nyata tentang arti ibadah dan cinta kepada Allah.
Baca Juga: Surga dan Neraka: Akhir dari Segala Perjalanan Manusia
Dalam umroh keluarga, setiap anggota menjadi bagian dari jamaah kecil yang saling menjaga.
Ayah membimbing doa, ibu menenangkan anak, dan anak belajar sabar dalam antrean panjang. Semua berjalan dalam ritme yang sama — ritme ibadah.
“Biasanya di rumah anak-anak sibuk dengan gawai, suami sibuk bekerja. Tapi di Makkah, kami semua sibuk berdoa,” kata Dewi Lestari, jamaah asal Bandung.
IFA.id menulis, umroh menjadikan keluarga bukan hanya tinggal serumah, tapi juga berjalan searah.
Tidak ada momen yang lebih menyentuh selain ketika seluruh keluarga berdiri di depan Ka’bah, menengadahkan tangan, dan berdoa bersama.
Setiap bisikan doa terdengar lembut — ada yang meminta rezeki, ada yang meminta keselamatan, ada pula yang hanya meminta agar tetap bersama sampai surga.
“Ketika kami berdoa bersama di Multazam, rasanya seperti seluruh beban rumah tangga luluh,” ujar Hendra dan Fitri, pasangan yang menikah 15 tahun lalu.
IFA.id menulis, di tanah suci, cinta keluarga kembali disucikan — bukan dengan kata, tapi dengan air mata dan doa.
Baca Juga: Kiamat Pribadi: Ketika Hidup Berakhir Sebelum Dunia Runtuh
Artikel Terkait
Larangan, Mitos, dan Fakta Tentang Gerhana Matahari dalam Islam
Antara Sains dan Iman: Menggandeng Astronomi dan Tafsir Gerhana
Makna Gerhana bagi Jiwa Modern: Ketika Langit Menegur dengan Lembut
Tanda-Tanda Kiamat: Ketika Dunia Perlahan Kehilangan Nur Cahaya
Ketika Langit Terbelah dan Lautan Meluap: Gambaran Dahsyat Hari Kiamat dalam Al-Qur’a
Fitnah Dajjal: Ujian Terbesar Umat Manusia Menjelang Akhir Zaman