Kamis, 4 Juni 2026

Larangan, Mitos, dan Fakta Tentang Gerhana Matahari dalam Islam

- Rabu, 8 Oktober 2025 | 11:40 WIB
IFA.id mengingatkan, Islam mengajarkan untuk meninggalkan takhayul dan menggantinya dengan dzikir, ilmu, dan ketundukan pada kebesaran Allah. (Foto/Ilustrasi)
IFA.id mengingatkan, Islam mengajarkan untuk meninggalkan takhayul dan menggantinya dengan dzikir, ilmu, dan ketundukan pada kebesaran Allah. (Foto/Ilustrasi)

 

IFA.id – Ada yang masih percaya bahwa gerhana matahari adalah tanda kesialan atau pertanda kematian seseorang?

Kepercayaan semacam itu ternyata sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Namun, Islam hadir untuk meluruskan pandangan manusia terhadap fenomena langit yang sesungguhnya menjadi bukti kebesaran Allah.

Sebelum Islam datang, berbagai peradaban memandang gerhana dengan rasa takut. Bangsa Tiongkok menganggapnya pertanda naga menelan matahari.

Di Yunani, ia dipercaya sebagai tanda kemurkaan para dewa. Bahkan di sebagian masyarakat Arab pra-Islam, gerhana dikaitkan dengan kematian tokoh besar atau kelahiran orang penting.

Baca Juga: Hikmah Rohani di Balik Kegelapan: Refleksi Saat Gerhana

Namun, pandangan itu berubah total ketika Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa gerhana tidak terkait dengan kematian maupun kelahiran siapa pun.

Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada masa Nabi, pernah terjadi gerhana matahari bertepatan dengan wafatnya putra beliau, Ibrahim.

Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan duka Nabi, namun Rasulullah ﷺ langsung menegaskan bahwa gerhana tidak ada hubungannya dengan kematian anaknya.

Baca Juga: Salat Kusuf: Cara Nabi ﷺ Merespons Gerhana Matahari

Sikap tegas ini menunjukkan betapa Islam mengajarkan objektivitas dan ketauhidan bahkan dalam fenomena alam.

Meski sudah berabad-abad berlalu, sebagian masyarakat masih terjebak dalam mitos. Ada yang menganggap tak boleh keluar rumah saat gerhana, tidak boleh membawa bayi keluar, bahkan ada yang menyuruh memukul benda keras untuk “mengusir naga” yang menelan matahari.

Padahal, ajaran Islam sangat rasional. Gerhana adalah fenomena astronomi biasa, tapi menjadi pengingat spiritual bagi manusia agar sadar betapa kecilnya diri di hadapan Sang Pencipta.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, hikmah gerhana adalah agar manusia takut kepada Allah dan kembali mengingat akhirat. Cahaya yang tiba-tiba redup seakan menjadi isyarat bahwa kehidupan dunia pun bisa gelap seketika.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Belajar di Era Digital: Pandangan Islam & Tantangannya

Kamis, 20 November 2025 | 17:31 WIB

Cara Menuntut Ilmu yang Diajarkan Nabi

Kamis, 20 November 2025 | 17:28 WIB

Ilmu sebagai Cahaya: Makna Mendalam Menurut Ulama

Kamis, 20 November 2025 | 17:16 WIB

Belajar Sepanjang Hayat dalam Perspektif Islam

Kamis, 20 November 2025 | 17:11 WIB

Adab Menuntut Ilmu yang Mulai Dilupakan

Kamis, 20 November 2025 | 17:06 WIB

Mengapa Belajar Jadi Wajib dalam Islam?

Kamis, 20 November 2025 | 17:01 WIB

Rahasia Keutamaan Menuntut Ilmu dalam Islam

Kamis, 20 November 2025 | 16:56 WIB

Amalan Jumat Pembuka Rezeki Menurut Sunnah

Jumat, 14 November 2025 | 16:45 WIB

Keutamaan Hari Jumat dalam Islam yang Perlu Dipahami

Jumat, 14 November 2025 | 15:12 WIB

Terpopuler

X