IFA.id – Ada yang masih percaya bahwa gerhana matahari adalah tanda kesialan atau pertanda kematian seseorang?
Kepercayaan semacam itu ternyata sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Namun, Islam hadir untuk meluruskan pandangan manusia terhadap fenomena langit yang sesungguhnya menjadi bukti kebesaran Allah.
Sebelum Islam datang, berbagai peradaban memandang gerhana dengan rasa takut. Bangsa Tiongkok menganggapnya pertanda naga menelan matahari.
Di Yunani, ia dipercaya sebagai tanda kemurkaan para dewa. Bahkan di sebagian masyarakat Arab pra-Islam, gerhana dikaitkan dengan kematian tokoh besar atau kelahiran orang penting.
Baca Juga: Hikmah Rohani di Balik Kegelapan: Refleksi Saat Gerhana
Namun, pandangan itu berubah total ketika Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa gerhana tidak terkait dengan kematian maupun kelahiran siapa pun.
Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pada masa Nabi, pernah terjadi gerhana matahari bertepatan dengan wafatnya putra beliau, Ibrahim.
Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan duka Nabi, namun Rasulullah ﷺ langsung menegaskan bahwa gerhana tidak ada hubungannya dengan kematian anaknya.
Baca Juga: Salat Kusuf: Cara Nabi ﷺ Merespons Gerhana Matahari
Sikap tegas ini menunjukkan betapa Islam mengajarkan objektivitas dan ketauhidan bahkan dalam fenomena alam.
Meski sudah berabad-abad berlalu, sebagian masyarakat masih terjebak dalam mitos. Ada yang menganggap tak boleh keluar rumah saat gerhana, tidak boleh membawa bayi keluar, bahkan ada yang menyuruh memukul benda keras untuk “mengusir naga” yang menelan matahari.
Padahal, ajaran Islam sangat rasional. Gerhana adalah fenomena astronomi biasa, tapi menjadi pengingat spiritual bagi manusia agar sadar betapa kecilnya diri di hadapan Sang Pencipta.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, hikmah gerhana adalah agar manusia takut kepada Allah dan kembali mengingat akhirat. Cahaya yang tiba-tiba redup seakan menjadi isyarat bahwa kehidupan dunia pun bisa gelap seketika.
Artikel Terkait
Kekuatan Tangan yang Terulur: Mengapa Membantu Sesama Tak Pernah Salah Wakt
Gerakan Kecil, Dampak Besar: Ketika Budaya Tolong-Menolong Hidup Kembali di Tengah Kota
Cahaya di Balik Kebaikan: Mengapa Islam Mengajarkan Menolong Tanpa Syarat