IFA.Id - Di berbagai daerah di Indonesia, banyak tradisi yang masih hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Sebagian di antaranya memiliki nilai sosial dan kultural yang tinggi. Namun, ada pula tradisi yang justru mencampuradukkan antara budaya dengan keyakinan, melahirkan praktik yang jauh dari ajaran Islam. Fenomena ini menjadi refleksi menarik: bagaimana iman dapat bertahan ketika budaya menyusup dengan wajah yang lembut.
Islam tidak menolak budaya, tetapi tegas meluruskan arah. Rasulullah SAW diutus bukan untuk mematikan tradisi, melainkan menyempurnakannya dengan cahaya wahyu. Namun, di tengah semangat melestarikan warisan leluhur, sebagian masyarakat tanpa sadar memelihara mitos dan ritual yang tidak memiliki dasar dalam syariat. IFA.id mencatat bahwa percampuran ini sering terjadi karena kurangnya pemahaman dan kuatnya pengaruh adat turun-temurun.
Contohnya bisa dilihat dalam ritual yang meminta izin kepada penunggu laut atau gunung sebelum melakukan kegiatan besar. Di beberapa tempat, praktik ini dianggap bentuk penghormatan terhadap alam. Namun, dalam pandangan Islam, meminta perlindungan selain kepada Allah tergolong syirik kecil, karena menempatkan makhluk sebagai perantara kekuatan gaib. Islam mengajarkan adab menjaga alam tanpa harus memohon pada selain Sang Pencipta.
Begitu juga dengan mitos-mitos yang menakut-nakuti, seperti larangan keluar rumah saat magrib karena akan diculik makhluk halus. Mitos semacam ini lahir dari tradisi lisan yang tujuannya mungkin mendidik anak agar berhati-hati, tetapi kemudian meluas menjadi keyakinan tak berdasar. Rasulullah SAW mengingatkan agar umat Islam tidak menciptakan ketakutan pada hal gaib tanpa dalil, karena hanya Allah yang memiliki kekuasaan atas makhluk-makhluk ciptaan-Nya.
Baca Juga: Meluruskan Tradisi: Islam Melawan Kebiasaan Jahiliyah Modern
IFA.id menyoroti bahwa banyak masyarakat masih sulit membedakan antara simbol budaya dan unsur ritual. Misalnya dalam tradisi sedekah bumi atau laut, sebagian umat menjalankan kegiatan tersebut sebagai bentuk syukur atas rezeki dari Allah, namun sebagian lainnya meyakini bahwa ritual itu harus dilakukan agar terhindar dari bencana. Di sinilah letak pergeseran akidah yang berbahaya—dari rasa syukur menjadi keyakinan magis.
Islam memandang niat sebagai inti dari amal. Jika sedekah bumi dilakukan semata-mata untuk bersyukur kepada Allah, maka hal itu baik. Tapi bila diniatkan untuk memuaskan roh atau penunggu, maka itu menyalahi tauhid. Dalam QS. Al-An’am:162-163, Allah menegaskan, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” Ayat ini menjadi batas tegas antara ibadah dan ritual budaya.
Beberapa ulama menilai bahwa mitos dan ritual bisa menjadi bentuk “jahiliyah modern” jika tidak diluruskan. Ia menciptakan ketergantungan batin pada kekuatan selain Allah. Padahal, hakikat iman adalah menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Ilahi, bukan pada benda, tempat, atau perantara. Islam mengajarkan doa dan ikhtiar sebagai bentuk usaha yang benar, bukan persembahan kepada hal-hal mistik.
IFA.id menemukan bahwa di era digital, mitos bahkan mendapatkan bentuk baru. Banyak akun di media sosial yang membungkus kepercayaan lama dalam konten spiritual modern, seperti “energi alam semesta”, “vibrasi aura”, atau “doa pengasihan instan”. Semua ini tampak seolah ilmiah, padahal hakikatnya menjerumuskan manusia pada keyakinan tanpa dasar tauhid.
Baca Juga: Doa Setelah Salat Jumat: Saat Hati dan Langit Saling Terhubung
Islam justru menekankan keseimbangan antara ilmu dan iman. Segala bentuk energi, kekuatan, dan keberkahan adalah milik Allah semata. Tidak ada benda yang bisa memberikan manfaat atau mudarat tanpa izin-Nya. Keyakinan ini menjaga hati tetap tenang dan menjauhkan manusia dari rasa takut pada hal gaib yang tidak berlandaskan dalil.
Budaya mistik yang berbalut agama seringkali sulit diberantas karena sudah dianggap bagian dari identitas lokal. Namun Islam tidak memerintahkan umatnya untuk meninggalkan akar budaya, melainkan menimbangnya dengan timbangan akidah. Jika budaya membawa kebaikan, pertahankan. Jika menjerumuskan pada syirik, tinggalkan dengan hikmah. Prinsip inilah yang menjaga Islam tetap hidup dalam berbagai budaya tanpa kehilangan kemurniannya.
Rasulullah SAW memberi contoh bagaimana menyikapi tradisi secara bijak. Ketika beliau hijrah ke Madinah dan melihat masyarakat merayakan dua hari besar yang berasal dari masa jahiliyah, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik: Idul Fitri dan Idul Adha.” Hadits ini menjadi dasar bahwa Islam tidak menolak budaya, tetapi menggantinya dengan nilai yang lebih murni.
IFA.id mencatat, banyak ulama dan dai masa kini menempuh pendekatan kultural untuk meluruskan mitos tanpa menyinggung budaya lokal. Pendekatan ini terbukti efektif, karena masyarakat lebih mudah menerima dakwah yang lembut dan dialogis dibandingkan dengan cara yang konfrontatif.
Artikel Terkait
Perjalanan Inspiratif Lovita Kostia Sundawa: Dari Pondok Pesantren Al-Muhajirin ke Universitas Indonesia
Rizki Ihsanudin, Santri Al-Muhajirin Purwakarta yang Menaklukkan Dunia Pertanian UNS
Diva Amelia Putri: Menjadi Santri Al-Muhajirin Purwakarta, Diterima Universitas Brawijaya, Bersiap ke Inggris
Santri Al-Muhajirin yang Berhasil Masuk Undip: Kisah Perjuangan Salma Mutsla Lapia
Cerita Muhammad Afif Muzakki, Santri Al-Muhajirin Purwakarta yang Taklukan Universitas Indonesia