Ada yang kehilangan rumah, ada yang kehilangan sanak keluarga. Tapi di balik itu, muncul pula kisah-kisah keajaiban anak kecil diselamatkan di antara reruntuhan, orang-orang saling menolong di tengah arus deras.
Baca Juga: Mengapa Rasulullah SAW Bergembira Saat Turun Hujan?
Dalam Islam, musibah bukan semata hukuman. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi, ketika banjir datang, bukan hanya air yang meluap. Doa pun mengalir dari hati-hati yang merasa kecil di hadapan kuasa-Nya.
IFA.id menemukan bahwa dalam sejarah Islam, banyak bencana alam menjadi momen kebangkitan iman.
Baca Juga: Ketika Langit Menangis: Tafsir Spiritual di Balik Turunnya Hujan
Setelah banjir besar di masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau memimpin doa bersama rakyatnya dengan kalimat sederhana namun mengguncang hati: “Ya Allah, jangan Engkau timpakan kepada kami azab karena perbuatan kami sendiri.”
Doa Saat Hujan dan Musibah Banjir
Di tengah suara hujan yang jatuh di atap, Rasulullah SAW mengajarkan doa yang lembut namun penuh makna:
اللّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
Allahumma shoyyiban nafi‘an
“Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dan saat hujan menjadi bencana atau banjir, Nabi SAW mengajarkan umatnya berdoa memohon perlindungan:
Baca Juga: Doa yang Tak Ditolak Saat Hujan Turun: Rahasia dari Langit
اللّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
Artikel Terkait
Ketika Tradisi Bertentangan dengan Tauhid
Budaya yang Tak Disadari Melanggar Syariat
Antara Adat dan Ibadah: Di Mana Batasnya?
Meluruskan Tradisi: Islam Melawan Kebiasaan Jahiliyah Modern