Kamis, 4 Juni 2026

Ketika Tradisi Bertentangan dengan Tauhid

- Jumat, 31 Oktober 2025 | 15:59 WIB
Ketika Tradisi Bertentangan dengan Tauhid (Foto/Ilustrasi)
Ketika Tradisi Bertentangan dengan Tauhid (Foto/Ilustrasi)

IFA.Id - Di banyak tempat di Nusantara, tradisi dan agama seringkali berjalan berdampingan. Namun, tak jarang garis pemisah di antara keduanya menjadi kabur. Di sinilah muncul pertanyaan besar yang terus menggema di kalangan umat Islam: kapan tradisi menjadi penguat keimanan, dan kapan ia justru bertentangan dengan tauhid?

IFA.id mencatat, banyak masyarakat muslim masih melakukan tradisi yang secara historis berakar dari kepercayaan pra-Islam. Misalnya ritual meminta berkah pada benda-benda tertentu, atau upacara adat yang melibatkan persembahan bagi roh leluhur. Di satu sisi, niatnya dianggap bentuk penghormatan budaya. Namun di sisi lain, Islam mengajarkan bahwa segala bentuk penyembahan atau pengagungan selain kepada Allah termasuk dalam wilayah syirik.

Ustaz Ahmad Syauqi, salah satu pengasuh pesantren di Jawa Timur, menegaskan bahwa Islam tidak menolak budaya. “Islam menghargai tradisi selama tidak bertentangan dengan aqidah. Tapi kalau budaya itu mengandung unsur pemujaan atau keyakinan di luar tauhid, maka wajib diluruskan,” ujarnya dalam kajian daring yang diikuti IFA.id.

Fenomena ini bukan hal baru. Sejak awal penyebaran Islam di Nusantara, para ulama menghadapi dilema serupa. Mereka tak serta-merta menghapus adat, melainkan melakukan pendekatan dakwah yang lembut. Tradisi yang baik dibiarkan hidup, seperti gotong royong atau sedekah bumi yang diubah maknanya menjadi wujud syukur kepada Allah. Inilah bentuk Islam yang membumi tanpa kehilangan kemurniannya.

Baca Juga: Peran Laki-Laki dalam Mendorong Kesetaraan Gender: Perspektif Islam

Namun di era modern, batas itu kembali kabur. Dengan dalih melestarikan warisan leluhur, sebagian masyarakat justru menghidupkan ritual yang sejatinya bertentangan dengan prinsip tauhid. Misalnya, mempercayai bahwa rezeki datang dari roh penjaga tempat, atau bahwa keselamatan bisa diperoleh dari sesajen dan jampi-jampi tertentu.

IFA.id menelusuri fenomena ini di beberapa daerah, dan menemukan bahwa banyak orang melakukan ritual tersebut bukan karena keyakinan penuh, melainkan karena tekanan sosial. “Takut dikucilkan kalau tak ikut,” ujar R, warga pedesaan di Jawa Tengah. Fenomena ini menunjukkan bahwa akar masalahnya bukan sekadar akidah, tetapi juga kebutuhan diterima oleh komunitas.

Dalam konteks ini, pendidikan menjadi kunci utama. Ulama kontemporer seperti KH. Cholil Nafis mengingatkan pentingnya literasi tauhid. “Semakin kuat pemahaman akidah seseorang, semakin mudah ia membedakan mana adat yang baik dan mana yang menjerumuskan pada syirik,” kata beliau dalam diskusi di MUI Pusat yang diliput IFA.id.

Media sosial juga punya peran ganda. Di satu sisi, banyak ustaz muda menggunakan platform digital untuk meluruskan pemahaman masyarakat soal ritual yang keliru. Tapi di sisi lain, muncul pula akun-akun yang mempopulerkan “tradisi mistik” sebagai hiburan spiritual. Tantangan dakwah di era digital pun makin kompleks.

Baca Juga: Muslim Feminist: Gerakan dan Pemikiran untuk Kesetaraan Gender dalam Islam

Islam tidak menolak kebudayaan, tapi Islam juga tidak bisa ditawar dalam hal aqidah. Nabi Muhammad SAW sendiri menghormati adat bangsa Arab yang selaras dengan tauhid, namun menolak keras tradisi jahiliyah yang mengandung kesyirikan, seperti penyembahan berhala dan ramalan nasib. Prinsip ini menjadi dasar bagaimana umat Islam seharusnya menempatkan budaya.

Budaya yang baik adalah budaya yang menumbuhkan nilai ilahiah: kejujuran, tolong-menolong, kasih sayang, dan rasa syukur. Sebaliknya, budaya yang memelihara ketakutan terhadap hal gaib tanpa dasar syariat, atau mengagungkan makhluk, harus ditinggalkan. Allah berfirman dalam QS. Az-Zumar:3, “Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia berkata, ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah’.”

Ayat ini menunjukkan betapa mudah manusia tergelincir dalam bentuk penyimpangan yang halus. Kadang niatnya “hanya” menghormati leluhur, tapi praktiknya sudah masuk wilayah ibadah selain Allah. Itulah mengapa Rasulullah SAW selalu menegaskan, setiap ibadah harus disandarkan pada niat yang benar dan cara yang sesuai tuntunan.

IFA.id menilai, jalan tengah terbaik adalah dengan dakwah yang bijak dan edukatif. Menegur tanpa menghakimi, mengajarkan tanpa merendahkan. Tradisi yang mengandung nilai kebersamaan dan kemanusiaan bisa diislamkan, seperti menjadikannya ajang sedekah, silaturahmi, atau syukuran dengan doa kepada Allah semata.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X