IFA.id – Siapa yang tidak mengenal Candi Borobudur? Berdiri megah di Magelang, Jawa Tengah, Borobudur adalah salah satu keajaiban dunia yang sekaligus menjadi destinasi wisata religi paling terkenal di Indonesia. Namun, di balik kemegahannya, ada fakta-fakta mengejutkan yang jarang diketahui banyak orang. Fakta ini bukan hanya menambah daya tarik Borobudur, tetapi juga membuatnya menjadi salah satu situs spiritual paling unik di dunia.
Borobudur diakui UNESCO sebagai candi Buddha terbesar di dunia. Dibangun pada abad ke-8 oleh Dinasti Syailendra, Borobudur memiliki lebih dari 2.600 panel relief dan 500 lebih patung Buddha. Namun, yang mengejutkan, semua itu dibangun tanpa semen. Batu-batu andesitnya disusun dengan sistem kunci, sehingga tetap kokoh meski berusia lebih dari 1.200 tahun.
IFA.id mencatat, kehebatan teknik ini membuat Borobudur tetap berdiri meski sudah berkali-kali diguncang gempa dan diterpa erupsi Gunung Merapi.
Banyak orang melihat Borobudur hanya sebagai bangunan indah, tapi sesungguhnya arsitekturnya menyimpan filosofi mendalam. Bentuknya seperti mandala raksasa, melambangkan alam semesta dalam ajaran Buddha Mahayana.
Baca Juga: Rahasia Doa Ringkas Setelah Sholat untuk Ampunan dan Rahmat
Candi ini terdiri dari tiga tingkatan: Kamadhatu (dunia hawa nafsu), Rupadhatu (dunia bentuk), dan Arupadhatu (dunia tanpa bentuk). Perjalanan menaiki Borobudur sebenarnya adalah perjalanan spiritual menuju pencerahan. Fakta ini membuat Borobudur bukan sekadar tempat wisata, tapi juga tempat meditasi yang sarat makna.
Relief di dinding Borobudur begitu detail hingga disebut “kitab suci dalam bentuk batu”. Ada panel yang menggambarkan hukum karma, kehidupan Buddha, hingga kehidupan masyarakat Jawa kuno.
Salah satu fakta mengejutkan, dari ribuan panel relief, banyak yang mengandung cerita kehidupan sehari-hari, seperti pedagang, nelayan, hingga petani. Artinya, Borobudur tidak hanya menyimpan pesan spiritual, tetapi juga merekam sejarah kehidupan masyarakat Jawa berabad-abad lalu.
Borobudur terletak di antara Gunung Merapi dan Sungai Progo. Posisi ini ternyata bukan kebetulan. Penelitian menunjukkan bahwa penempatan Borobudur sejalan dengan kosmologi Jawa, di mana gunung dan sungai melambangkan keseimbangan alam semesta.
Baca Juga: Mengapa Puasa Efektif Atasi Stres & Kelelahan?
Banyak pakar arkeologi percaya bahwa Borobudur dibangun untuk menyatu dengan lanskap alam. Saat matahari terbit dari arah Merapi, cahaya jatuh tepat ke Borobudur, menciptakan pemandangan yang begitu sakral.
Setiap tahun, ribuan umat Buddha dari seluruh dunia berkumpul di Borobudur untuk merayakan Waisak. Perayaan ini menjadi salah satu momen paling sakral sekaligus spektakuler, dengan prosesi pelepasan lampion yang menyinari langit malam.
Fakta menarik, tradisi Waisak di Borobudur tidak hanya menarik umat Buddha, tapi juga wisatawan dari berbagai agama. Semua datang untuk menyaksikan keindahan perayaan yang penuh doa dan kedamaian.
Tak banyak yang tahu, Borobudur sempat hilang dari pandangan dunia. Pada abad ke-10, setelah Gunung Merapi meletus, candi ini tertimbun abu vulkanik dan hutan lebat. Baru pada tahun 1814, Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jawa dari Inggris, menemukan kembali Borobudur.
Artikel Terkait
Cara Rasulullah Menghadapi Rasa Sedih dan Kecewa
Mengatasi Depresi Tanpa Obat dengan Iman dan Amal Sholeh
Puasa dan Manfaatnya bagi Kesehatan Mental
Bagaimana Islam Mengajarkan Mengatasi Kesepian?
Dampak Ghibah terhadap Kesehatan Mental dan Cara Menghindarinya
Mengatur Waktu dengan Baik dalam Islam untuk Mengurangi Stres