Dan di titik inilah cerita menjadi menarik. Arsitektur yang disusun kembali dengan kubah besar berwarna hitam, lengkungan megah, dan pilar-pilar tebal ternyata membuat masjid ini memiliki karakter sangat berbeda dari masjid lain di Indonesia. Banyak arkeolog menyebutnya salah satu masjid terindah di Asia Tenggara pada masanya.
Sejarah bergulir, Aceh mengalami masa-masa panjang konflik dan tekanan. Tetapi masjid tetap berdiri. Menjadi tempat semua orang kembali menyusun kekuatan batin.
Baca Juga: Ziarah ke Masjid Nabawi Mini Tubaba: Nuansa Madinah di Tanah Sumatra
Kisah yang selalu diingat: tsunami 2004
Semua orang yang berkunjung ke Aceh pasti akan mendengar cerita ini. IFA.id mencatat bahwa masjid ini menjadi ikon penyintas.
Ketika gelombang setinggi belasan meter menerjang Banda Aceh, hampir seluruh bangunan di sekitarnya hancur. Namun masjid, entah bagaimana, tetap berdiri.
Banyak warga Aceh percaya bahwa masjid ini tidak hanya kokoh secara arsitektur, tetapi juga memiliki keberkahan yang menjaganya.
Ribuan orang berlarian masuk ke dalam masjid untuk menyelamatkan diri ketika gelombang pertama datang. Dari sudut mana pun kisah ini dilihat, sulit untuk tidak merasa tergetar.
Baca Juga: Jangan Sampai Putus: Bahaya Lalai Mengaji Meski Hanya Satu Hari
Beberapa peneliti menyebut desain struktur masjid yang masif menjadi salah satu faktor penyebabnya bertahan,
tetapi tetap saja peristiwa itu membentuk narasi spiritual yang melekat hingga hari ini. Masjid seakan berfungsi sebagai pelukan terakhir bagi masyarakat yang sedang berduka.
Keindahan yang membuat orang tak ingin beranjak
Siapa pun yang berdiri di halaman masjid akan merasakan keindahan yang dibuat sangat rapi. Air mancur besar,
lantai marmer yang bersih, tenda raksasa otomatis yang mengembang seperti di Masjid Nabawi, serta pencahayaan malam yang lembut membuat tempat ini tampak seperti karya seni yang hidup.
Baca Juga: Mereka yang Dicintai Allah: Golongan Ahli Qur’an di Mata Rasulullah