IFA.id - merangkum satu kisah paling menggetarkan dari bumi Serambi Mekkah, sebuah tempat yang tidak hanya menjadi tujuan wisata religi, tetapi juga simbol keberdayaan manusia menghadapi takdir.
Masjid Raya Baiturrahman Aceh, yang berdiri megah di pusat Kota Banda Aceh, selalu menghadirkan dua rasa sekaligus: haru dan kagum. Banyak orang yang datang bukan sekadar ingin melihat arsitektur indahnya,
tetapi ingin menyentuh kembali ingatan tentang bagaimana tempat ini berdiri tegak ketika segalanya runtuh.
Kata kunci masjid Raya Baiturrahman biasanya muncul dalam satu-dua media setiap bulan, terutama ketika mengulas sejarah Aceh atau refleksi bencana tsunami. Namun, popularitasnya tidak pernah surut.
Baca Juga: Menyusuri Makam Sunan Kalijaga: Wisata Religi Paling Dicari di Jawa
Keindahan masjid ini selalu menjadi sorotan wisatawan lokal maupun mancanegara, yang penasaran seperti apa rasanya berdiri di titik yang menyimpan begitu banyak makna sejarah dan spiritual.
Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya bangunan. Ia adalah saksi. Dan seperti saksi yang baik, ia tidak perlu berteriak untuk menyampaikan ceritanya. Cukup berdiri di halamannya beberapa menit, maka kesan ketenangan dan kekuatan langsung menyapa.
IFA.id membuka kisah dari halaman sejarah
Banyak orang mengenal masjid ini sebagai bangunan yang selamat dari tsunami tahun 2004. Tapi sejarahnya jauh lebih tua. Masjid ini pertama kali dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda pada abad ke-17 sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan pemerintahan Aceh.
Dalam catatan sejarah lokal, masjid menjadi pusat kehidupan masyarakat, tempat mengambil keputusan, hingga arena berdiskusi antarulama.
Baca Juga: Keajaiban Masjid Demak: Jejak Wali Songo yang Tak Pernah Padam
Ketika masa kolonial tiba, Masjid Raya Baiturrahman memasuki fase penuh guncangan. Tahun 1873, saat Belanda menyerang Aceh, masjid ini dibakar habis. Peristiwa ini memicu kemarahan besar rakyat Aceh karena masjid adalah simbol martabat dan kehormatan.
Demi meredam gelombang perlawanan, Belanda membangun kembali masjid tersebut pada 1879 dengan gaya arsitektur Moghul yang masih terlihat hingga sekarang.