IFA.id — Rahasia Gerhana yang Membuat Langit Turut Bertasbih
Langit tiba-tiba gelap di tengah siang. Burung-burung berdiam di dahan, udara menurun hening, dan manusia menatap ke atas penuh tanda tanya. Begitulah suasana saat gerhana matahari menyelimuti Madinah pada masa Rasulullah ﷺ.
Tapi alih-alih panik atau berspekulasi, Rasulullah mengajak umatnya untuk berdiri, berwudhu, dan melaksanakan salat kusuf—salat khusus saat gerhana.
Bagi IFA.id, kisah ini bukan hanya catatan sejarah, tetapi cermin spiritual yang jarang dibahas: bagaimana manusia merespons kebesaran Allah dengan ketenangan, bukan ketakutan.
Gerhana matahari terjadi pada tahun ke-10 Hijriyah, bertepatan dengan wafatnya putra Rasulullah, Ibrahim.
Baca Juga: Gerhana Matahari: Tanda-Kuasa Allah, Bukan Kesialan
Sebagian masyarakat kala itu meyakini bahwa gerhana adalah pertanda duka alam atas kematian seseorang yang mulia. Namun, Rasulullah ﷺ meluruskan anggapan itu dalam sabdanya:
“Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Keduanya adalah tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Maka jika kamu melihat gerhana, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kalimat itu mengguncang paradigma. Rasulullah mengubah rasa takut menjadi kesadaran spiritual. Bahwa alam bukan tunduk pada manusia, melainkan bersama-sama tunduk kepada Sang Pencipta.
IFA.id mencatat dari berbagai riwayat sahih, salat kusuf dilaksanakan dengan khusyuk dan panjang. Rasulullah ﷺ memanjangkan bacaan, ruku, dan sujudnya, seolah ingin menandai bahwa waktu gerhana adalah momen tafakkur mendalam.
Baca Juga: Menolong di Jalan Sunyi: Kisah Para Dermawan Tak Dikenal di Tengah Dunia Modern
Struktur salatnya berbeda dari salat biasa. Setiap rakaat memiliki dua kali ruku dan dua kali bacaan panjang. Dalam satu salat terdapat empat kali ruku dan empat kali sujud.
Tata caranya menurut sunnah: