-
Niat: “Ushalli sunnatal kusufi rak‘ataini lillahi ta‘ala.”
-
Takbiratul ihram, lalu membaca Al-Fatihah dan surat panjang seperti Al-Baqarah atau Ali Imran.
-
Ruku panjang, kemudian bangkit kembali untuk membaca Al-Fatihah dan surat panjang kedua.
-
Ruku kedua, lalu sujud dua kali dengan tuma’ninah.
-
Rakaat kedua dilakukan dengan cara yang sama.
-
Setelah salam, Rasulullah berkhutbah menasihati umat agar memperbanyak doa, istighfar, dan sedekah.
Baca Juga: Dari Hati ke Hati: Kekuatan Empati dalam Ajaran Rasulullah
Gerhana bukan hukuman, melainkan undangan untuk merenung. Dalam hadis riwayat An-Nasa’i disebutkan, Rasulullah menangis saat salat kusuf. Bukan karena takut akan kegelapan, tetapi karena rasa takut (khauf) kepada kebesaran Allah.
IFA.id mencatat, momen gerhana membuat kita menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan sistem semesta. Langit yang luas, matahari yang bersinar, semua tunduk pada perintah-Nya. Ketika keduanya tertutup sesaat, Allah seakan mengingatkan:
“Jangan terlalu sibuk menatap dunia, pandanglah kebesaran-Ku.”
Doa Saat Gerhana Matahari
Berikut doa yang dianjurkan saat terjadi gerhana, berdasarkan amalan para sahabat dan ulama salaf:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوبُ إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا آيَةَ رَحْمَةٍ وَلَا تَجْعَلْهَا آيَةَ عَذَابٍ.
“Allahumma inna nastaghfiruka wa natubu ilaik, Allahumma aj‘alha ayata rahmatin wa la taj‘alha ayata ‘adzab.”
Baca Juga: Ketika Kebaikan Menular: Menolong Sesama Sebagai Amal Jariyah
Artinya:
“Ya Allah, kami memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu. Jadikanlah gerhana ini sebagai tanda rahmat, bukan tanda azab.”
Artikel Terkait
Bagaimana Meteor Membantu Memperkuat Keimanan: Kisah dan Refleksi
Mitos vs Fakta: Memisahkan Kepercayaan Rakyat dan Ajaran Islam tentang Meteor
Kekuatan Tangan yang Terulur: Mengapa Membantu Sesama Tak Pernah Salah Wakt
Gerakan Kecil, Dampak Besar: Ketika Budaya Tolong-Menolong Hidup Kembali di Tengah Kota