IFA.id - mencoba mengulas fenomena aqiqah modern ini: dari makna spiritual hingga bisnis jasa aqiqah yang berkembang pesat di kota-kota besar.
Makna Aqiqah di Zaman Rasulullah
Dalam tradisi Islam, aqiqah bukan sekadar ritual penyembelihan kambing. Ia adalah bentuk rasa syukur atas kelahiran anak, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Aqiqah mengandung tiga dimensi sekaligus: spiritual, sosial, dan simbolik.
Secara spiritual, ia menjadi bentuk syukur kepada Allah atas karunia kehidupan.
Baca Juga: Perbedaan Aqiqah dan Qurban: Dua Ibadah, Satu Spirit Pengorbanan
Secara sosial, daging aqiqah dibagikan untuk mempererat ukhuwah dan menumbuhkan solidaritas. Sedangkan secara simbolik, ia menandai awal kehidupan seorang Muslim dalam kebaikan dan keberkahan.
Transformasi Aqiqah di Era Modern
Dulu, keluarga melaksanakan aqiqah dengan cara tradisional: membeli kambing sendiri, menyembelih di rumah atau masjid, memasak, lalu membagikan kepada tetangga dan fakir miskin. Prosesnya panjang, melelahkan, tapi penuh makna kebersamaan.
Kini, gaya hidup berubah. Waktu semakin padat, keluarga tinggal di apartemen, dapur tak lagi luas, dan banyak yang tak sempat mengurus sendiri. Dari situlah lahir bisnis jasa aqiqah modern.
IFA.id mencatat, layanan aqiqah kekinian tidak hanya menyediakan penyembelihan kambing, tapi juga mengurus seluruh proses mulai dari pemilihan hewan, pemotongan sesuai syariat, pengolahan masakan, hingga pengantaran ke rumah atau penerima sedekah.
Beberapa bahkan memiliki sertifikasi halal dan bekerja sama dengan lembaga amil zakat.
Baca Juga: Hukum Aqiqah: Sunnah, Wajib, atau Sekadar Tradisi?
Hukum Menggunakan Jasa Aqiqah
Pertanyaan yang sering muncul: apakah boleh menyerahkan aqiqah kepada jasa penyedia layanan?