Kamis, 4 Juni 2026

Hukum Aqiqah: Sunnah, Wajib, atau Sekadar Tradisi?

- Kamis, 6 November 2025 | 17:23 WIB
Momen aqiqah bukan sekadar penyembelihan, tapi simbol syukur dan kasih sayang keluarga Muslim. (Foto/Ilustrasi)
Momen aqiqah bukan sekadar penyembelihan, tapi simbol syukur dan kasih sayang keluarga Muslim. (Foto/Ilustrasi)

IFA.id - Suatu pagi di sebuah kampung kecil di Jawa Barat, suara kambing mengembik bersahutan. Warga berbondong-bondong datang membawa senyum, sementara aroma sate mulai menyeruak di udara.

Hari itu, keluarga muda tengah melaksanakan aqiqah untuk anak pertama mereka. Di tengah keceriaan itu, muncul pertanyaan klasik: apakah aqiqah itu wajib, sunnah, atau sekadar budaya turun-temurun?

IFA.id mencatat, meski hampir setiap Muslim mengenal tradisi aqiqah, tak sedikit yang belum memahami kedudukan hukumnya dalam Islam. Padahal, ibadah ini bukan sekadar pesta syukuran, melainkan bagian dari sunnah Nabi yang sarat makna spiritual dan sosial.

Makna Dasar Aqiqah dalam Islam

Kata ‘aqiqah’ secara bahasa berarti memotong atau menguraikan. Dalam konteks syariat, aqiqah adalah penyembelihan hewan — biasanya kambing atau domba — sebagai bentuk syukur kepada Allah atas kelahiran seorang anak.

Baca Juga: Kapan Waktu Terbaik Melaksanakan Aqiqah Menurut Syariat?

Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak tergadai oleh aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Kalimat “tergadai oleh aqiqahnya” menunjukkan bahwa aqiqah bukan sekadar simbolik. Ia membawa dimensi spiritual: bentuk syukur, perlindungan, dan pengakuan bahwa kehidupan anak adalah titipan dari Allah.

Pandangan Ulama tentang Hukum Aqiqah

IFA.id merangkum berbagai pendapat ulama tentang hukum aqiqah. Di sinilah perdebatan menarik terjadi — bukan soal boleh atau tidak, tapi soal tingkat kewajiban.

  1. Mazhab Syafi’i dan Hambali:
    Menyatakan bahwa aqiqah hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Artinya, bila mampu, sebaiknya dilakukan karena Rasulullah SAW mencontohkannya untuk cucunya, Hasan dan Husain.

  2. Mazhab Maliki:
    Menganggap aqiqah sebagai amalan sunnah, bukan kewajiban. Namun, Imam Malik menekankan bahwa ia tetap memiliki keutamaan besar bagi keluarga Muslim.

  3. Mazhab Hanafi:
    Sebagian ulama Hanafiyah berpendapat bahwa aqiqah tidak wajib dan tidak pula sunnah muakkadah, melainkan tradisi baik (mandub) yang memiliki nilai sosial dan spiritual.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X