IFA.id - Di masa ketika dunia masih terpecah oleh suku, ras, dan kekuasaan, seorang pemimpin dari jazirah Arab menulis surat. Tidak dengan ancaman, tapi dengan seruan lembut: “Masuklah ke dalam Islam, engkau akan selamat.”
Kalimat sederhana itu kini menjadi bagian dari warisan diplomasi terbesar dalam sejarah kemanusiaan. Dialah Muhammad SAW, sang utusan yang mengubah sejarah dengan tinta dan akhlak, bukan dengan pedang.
IFA.id mencatat, tradisi diplomasi Islam sesungguhnya lahir dari tindakan Nabi Muhammad SAW pasca-Perjanjian Hudaibiyah (tahun ke-6 Hijriah). Saat itu, Islam telah dikenal di Jazirah Arab, namun pesan dakwah perlu menjangkau lebih luas.
Rasulullah kemudian menulis surat kepada para penguasa besar dunia: Kaisar Romawi Timur (Heraklius), Raja Persia (Kisra), Raja Mesir (Muqauqis), Raja Abisinia (Najasyi), dan beberapa pemimpin lain di wilayah Syam dan Bahrain.
Baca Juga: Huruf dan Wahyu: Bagaimana Al-Qur’an Mengubah Dunia Tulisan
Namun yang menarik, setiap surat Nabi ditulis dengan adab diplomasi yang sangat maju untuk ukuran abad ke-7.
IFA.id menelusuri catatan sejarah Ibnu Hisyam dan Thabari: Rasulullah selalu membuka suratnya dengan salam dan basmalah, lalu menyebut nama penerima dengan penuh hormat bahkan kepada raja non-Muslim.
Salah satu surat paling terkenal adalah yang dikirim kepada Heraklius: “Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya, kepada Heraklius, penguasa Romawi. Salam bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Aku mengajakmu masuk Islam, maka engkau akan selamat. Allah akan memberi pahala dua kali kepadamu...”
Kalimat itu sederhana, tapi memiliki makna mendalam: Nabi tidak mengancam, melainkan menawarkan perdamaian dan keselamatan. Di balik setiap kata, ada pesan universal tentang etika dan kasih sayang lintas keyakinan.
Baca Juga: Dari Pasar Madinah ke Bursa Dunia: Warisan Ekonomi Rasulullah
IFA.id menyoroti bagaimana diplomasi Rasulullah bukanlah sekadar taktik politik, melainkan bentuk dakwah yang beradab.
Dalam buku “Sirah Nabawiyah” karya Ibnu Katsir disebutkan, Nabi memilih utusan diplomatik dengan sangat hati-hati—bukan berdasarkan status sosial, tapi kecerdasan dan kemampuan komunikasi.
Misalnya, Dihyah bin Khalifah al-Kalbi dikirim ke Kaisar Heraklius. Ia dikenal tampan, sopan, dan fasih.
Artikel Terkait
Infaq: Cermin Keikhlasan dan Jalan Menuju Hati yang Tenang
Hukum Memelihara Kucing dalam Islam: Boleh atau Tidak?