IFA.id - Pernah terbayang bagaimana satu wahyu bisa mengubah seluruh sistem tulisan dunia? Sebelum Al-Qur’an diturunkan, huruf Arab hanyalah rangkaian tanda sederhana di padang pasir. Tak beraturan, tanpa titik, tanpa keindahan.
Namun, sejak firman pertama Iqra’ turun di gua Hira, sejarah peradaban tulisan memasuki babak baru. Huruf-huruf yang dulu hanya alat tukar pesan kini menjelma menjadi medium keagungan, seni, dan ilmu.
IFA.id menelusuri bagaimana wahyu pertama itu bukan sekadar memerintahkan membaca, tapi membentuk seluruh tradisi literasi umat manusia.
Kisah ini dimulai pada malam ketika Jibril berkata, “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq.” Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Nabi Muhammad SAW, seorang ummi yang tak membaca dan menulis justru menerima perintah membaca.
Baca Juga: Dari Pasar Madinah ke Bursa Dunia: Warisan Ekonomi Rasulullah
Di sinilah keajaiban itu dimulai: wahyu tidak hanya membentuk iman, tapi juga menyalakan semangat ilmu dan tulisan.
Sebelum Islam datang, tulisan Arab Nabati digunakan terbatas di Jazirah Arab bagian utara. Belum ada standar bentuk huruf. Setiap suku menulis dengan variasi berbeda. Namun, Al-Qur’an yang diturunkan dalam bahasa Arab menuntut ketepatan dan keseragaman.
Ia memaksa umat untuk menulis, membaca, dan menghafal dengan cara yang sama demi menjaga keaslian wahyu.
Ketika para sahabat menuliskan wahyu di pelepah kurma, tulang unta, dan batu tipis, mereka bukan sekadar mencatat kata. Mereka sedang merancang fondasi baru bagi ilmu pengetahuan.
Setelah wafatnya Nabi SAW, muncul kekhawatiran akan hilangnya sebagian ayat karena banyak penghafal Qur’an gugur di medan perang.
Baca Juga: Madrasah Pertama di Dunia: Bagaimana Nabi Membangun Tradisi Ilmu
Maka Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, atas saran Umar bin Khattab, memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan wahyu menjadi satu mushaf. Dari sinilah sejarah penulisan Al-Qur’an dimulai secara resmi.
Mushaf itu ditulis tanpa titik dan tanda baca. Bayangkan, satu huruf bisa punya banyak kemungkinan bunyi.
Artikel Terkait
Infaq: Cermin Keikhlasan dan Jalan Menuju Hati yang Tenang
Ketika Infaq Menjadi Bahasa Cinta di Antara Sesama
Hukum Memelihara Kucing dalam Islam: Boleh atau Tidak?