Kamis, 4 Juni 2026

Madrasah Pertama di Dunia: Bagaimana Nabi Membangun Tradisi Ilmu

- Jumat, 24 Oktober 2025 | 12:43 WIB
Dar al-Arqam, madrasah pertama dalam sejarah Islam tempat Nabi Muhammad SAW menanam benih ilmu dan peradaban, di mana cahaya pengetahuan pertama kali menerangi hati para sahabat. (Foto/Ilustrasi)
Dar al-Arqam, madrasah pertama dalam sejarah Islam tempat Nabi Muhammad SAW menanam benih ilmu dan peradaban, di mana cahaya pengetahuan pertama kali menerangi hati para sahabat. (Foto/Ilustrasi)

IFA.id - Pernah membayangkan bagaimana pendidikan Islam pertama kali dimulai?
Bukan di ruang kelas mewah, bukan pula di universitas besar.

Justru di sebuah rumah kecil di lereng bukit Shafa, seorang lelaki bernama Arqam bin Abi Arqam mengizinkan Rasulullah SAW menjadikannya tempat belajar pertama bagi umat Islam. Di sanalah, sejarah “madrasah pertama di dunia” dimulai dan peradaban ilmu Islam lahir.

IFA.id mencatat, sekitar tahun 613 M, ketika dakwah Islam masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi di Makkah, Rasulullah SAW membutuhkan tempat aman untuk mengajarkan wahyu kepada para sahabat.

Rumah Arqam bin Abi Arqam yang saat itu berusia sangat muda menjadi pilihan. Di rumah itulah, lahir generasi pertama pembelajar Islam: Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar, Zaid bin Haritsah, dan belasan sahabat lainnya.

Mereka duduk mengelilingi Rasulullah, belajar langsung tentang tauhid, akhlak, dan nilai kemanusiaan. Tak ada papan tulis, tak ada pena; hanya hafalan dan hati yang terbuka.

Baca Juga: Jejak Rasulullah: Peninggalan Fisik dan Spiritualitas yang Masih Hidup

Dari sinilah istilah “Dar al-Arqam” — rumah Arqam — menjadi simbol awal lahirnya lembaga pendidikan Islam. Sebuah tempat di mana ilmu bukan sekadar teori, tapi cahaya yang menuntun jiwa.

IFA.id menelusuri bahwa Rasulullah SAW menanamkan gagasan luar biasa: ilmu sebagai pondasi perubahan. Dalam pandangan beliau, tidak ada revolusi sosial tanpa pendidikan.

Nabi memulai dari yang paling dasar  membebaskan pikiran manusia dari belenggu kejahilan.
Dalam satu hadis disebutkan: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini bukan sekadar anjuran. Ia adalah deklarasi peradaban: bahwa setiap insan, laki-laki dan perempuan, memiliki hak dan kewajiban untuk berilmu.

Baca Juga: Arsitektur Islam Pertama: Masjid Nabawi dan Filosofi di Balik Desainnya

Dari prinsip ini, tumbuhlah kesadaran intelektual umat Islam yang kelak melahirkan para ilmuwan besar seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Al-Farabi.

Menariknya, Dar al-Arqam bukan tempat khusus bagi bangsawan Quraisy atau orang terpandang. Semua orang boleh datang dari budak hingga saudagar kaya. Ini menunjukkan egalitarianisme pendidikan Islam sejak awal.

Rasulullah SAW tidak pernah membeda-bedakan muridnya. Setiap orang diberi ruang untuk bertanya, berdiskusi, bahkan mengungkapkan keraguan. Dalam pandangan beliau, ilmu harus membuka, bukan menutup.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X