IFA.id – Idul Adha 2025 kembali menjadi momentum penting untuk merayakan semangat kebersamaan umat. Dari kota besar hingga pelosok desa, masyarakat bahu membahu dalam melaksanakan ibadah kurban, mulai dari penyembelihan hewan hingga distribusi daging ke tangan yang berhak. Gotong royong yang lahir dari momen ini menjadi bukti kuat bahwa Idul Adha bukan sekadar ritual, tetapi juga refleksi nyata dari solidaritas sosial.
Di banyak masjid, suasana Idul Adha selalu identik dengan keramaian. Panitia, pemuda, hingga ibu-ibu majelis taklim turun tangan membantu. Ada yang menyiapkan hewan, ada yang bertugas menguliti, ada pula yang menimbang daging dan membungkusnya. Semua bekerja tanpa pamrih, hanya berlandaskan niat ibadah.
Di sebuah masjid di Depok, Jawa Barat, terlihat pemandangan bagaimana generasi muda ikut serta dalam proses penyembelihan. "Kami belajar bukan hanya tentang teknis, tapi juga makna dari kurban. Ini tentang kepedulian dan kebersamaan," ujar Adi (21), mahasiswa yang menjadi panitia kurban.
Gotong royong juga tampak jelas dalam distribusi daging kurban. Di desa-desa, anak-anak muda biasanya menjadi kurir yang mengantarkan paket daging ke rumah-rumah warga. Mereka berkeliling dengan motor, sepeda, bahkan berjalan kaki, memastikan tidak ada keluarga yang terlewat.
Baca Juga: Doa Setelah Sholat untuk Anak yang Taat dan Berbakti
Di Surakarta, IFA.id mencatat ada tradisi unik: warga secara bergiliran membantu membagikan daging dengan sistem ronda. "Dengan cara ini, semua warga merasa terlibat. Tidak hanya menerima, tetapi juga memberi tenaga untuk saudara lain," kata Bu Sulastri (48), warga setempat.
Idul Adha juga menjadi ajang silaturahmi. Di sela-sela proses penyembelihan, warga saling bercengkerama, bertukar kabar, bahkan saling membantu memasak daging untuk disantap bersama. Tradisi ini memperkuat hubungan antarwarga, menjadikan Idul Adha bukan hanya ibadah individual, tetapi juga pesta sosial.
Di Lombok, tradisi begibung atau makan bersama setelah kurban tetap dijaga. Nasi, lauk, dan daging kurban disajikan dalam wadah besar, kemudian dimakan beramai-ramai. Semua duduk setara, tanpa membedakan status sosial.
IFA.id mencatat, semangat gotong royong dalam Idul Adha tidak hanya memperkuat solidaritas umat, tetapi juga memberi pelajaran tentang kesederhanaan. Kurban mengajarkan bahwa berbagi itu bukan soal besar kecilnya pemberian, tetapi ketulusan hati.
Baca Juga: Doa Mustajab Seusai Sholat Demi Anak Salehah Idaman
Ustaz Hilmi, seorang dai muda di Jakarta, mengatakan, "Idul Adha mengajarkan kita untuk rela berkorban, bukan hanya harta, tapi juga ego. Gotong royong menjadi cara kita mengamalkan nilai ini dalam kehidupan sehari-hari."
Menariknya, semangat gotong royong juga hadir dalam format baru. Melalui platform kurban digital, anak muda menggalang dana bersama untuk membeli hewan kurban. Meski tidak bertatap muka langsung, rasa kebersamaan tetap tercipta karena hasilnya dinikmati banyak orang, terutama di daerah terpencil.
Di Bandung, komunitas mahasiswa IT meluncurkan aplikasi sederhana yang memungkinkan patungan kurban secara online. "Kami ingin membawa semangat gotong royong ke era digital, agar makin banyak orang bisa ikut berkurban," kata Rizky (23), salah satu penggagas.
Idul Adha 2025 membuktikan bahwa nilai gotong royong tetap hidup dan relevan. Dari desa hingga kota, dari masjid besar hingga mushola kecil, semua umat bergandeng tangan dalam semangat berbagi. Inilah wajah sejati Idul Adha di Nusantara: ibadah yang bukan hanya menyatukan umat dengan Allah, tetapi juga menguatkan persaudaraan antar manusia.
Artikel Terkait
Peran Santri di Era Globalisasi : Kontribusi pesantren dalam peradaban modern
Menemukan Tenang Lewat Dzikir dan Doa Malam
Seni Ikhlas Menerima Takdir Allah
4 Hal Penting Tentang Khutbah Jumat yang Sering Ditanyakan
Dzikir Malam: Shufah Hati yang Menenangkan Jiwa