Dalam dunia psikologi modern, ini mirip dengan teknik grounding yang bertujuan membawa kembali kesadaran ke momen saat ini. Bedanya, dalam Islam grounding itu dilakukan dengan menautkan hati kepada Allah, bukan hanya pada napas atau lingkungan sekitar.
Baca Juga: Kurma dan Kesehatan Menurut Perspektif Islam
Namun ketenangan hati dalam Islam tidak berhenti pada dzikir saja. Ada struktur kesehatan mental yang lebih luas: sabar, syukur, tawakal, dan rida. Empat elemen ini bekerja seperti pilar yang saling melengkapi. Jika satu melemah, pilar lainnya membantu menopang.
Sabar, misalnya, sering disalahpahami sebagai pasrah atau diam tanpa tindakan. Padahal sabar adalah kemampuan mengelola reaksi diri ketika menghadapi ujian.
Seorang yang sabar bukan yang tidak merasa marah atau sedih, melainkan yang mampu mengarahkan emosinya agar tidak merusak jiwanya sendiri. Ketika emosi meledak tanpa arah, kesehatan mental menjadi korban pertama.
Syukur pun bukan sekadar menghitung nikmat. Ia adalah cara memusatkan pikiran pada apa yang ada, bukan pada apa yang hilang. Para psikolog menyebutnya positive reappraisal, yaitu kemampuan menilai ulang pengalaman dengan sudut pandang yang lebih sehat.
Baca Juga: Mengapa Kurma Dianjurkan Saat Berbuka?
Islam sudah lama mengajarkan hal ini melalui anjuran untuk selalu bersyukur dalam setiap kondisi.
Lalu ada tawakal, penyerahan penuh kepada Allah setelah melakukan usaha terbaik. Sikap ini bukan bentuk menghindar dari masalah, justru sebaliknya, tawakal mencegah seseorang terjerat oleh pikiran yang berlebihan.
Banyak kecemasan muncul bukan karena masalah yang besar, tetapi karena bayangan kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Tawakal mengajarkan bahwa hasil akhirnya bukan di tangan manusia. Dengan begitu beban mental menjadi lebih ringan.
IFA.id mencatat bahwa para ulama klasik sudah membahas pentingnya kesehatan hati sebagai fondasi kesehatan mental jauh sebelum istilah psikologi populer.
Baca Juga: Rahasia Kurma dalam Tradisi Nabi
Imam Al Ghazali, misalnya, menjelaskan bahwa qalb adalah pusat dari seluruh perilaku dan kondisi emosional manusia. Jika qalb bersih, hidup menjadi lapang. Jika ia keruh, maka pikiran pun mudah diguncang.
Dalam kehidupan modern, ujian mental muncul dalam bentuk yang berbeda. Internet membuka ruang informasi yang tak terbatas, sekaligus melahirkan tekanan sosial baru. Media sosial membuat manusia merasa perlu selalu terlihat baik, bahagia, dan sukses.
Padahal tidak ada satu pun jiwa yang hidup tanpa luka. Islam mengajarkan bahwa tidak perlu menghabiskan energi untuk menyenangkan semua orang. Fokus utama adalah memperbaiki hubungan dengan Allah dan diri sendiri.