3. Tanyakan langsung kepada penjual
Hal sesederhana menanyakan bahan bisa menyingkap banyak hal. Produk yang aman biasanya transparan.
4. Hindari produk impor tanpa label bahasa Indonesia
Produk seperti ini sering masuk tanpa izin edar resmi sehingga tidak melalui pemeriksaan halal.
5. Jika ragu, lebih baik ditinggalkan
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa meninggalkan syubhat membawa ketenangan hati. Semakin mudah tren makanan viral bermunculan, semakin besar peran masyarakat untuk bijak memilih.
Baca Juga: Perkuat Komunikasi, DPRD Kota Bekasi Dorong Pembangunan Sekretariat RW di Seluruh Wilayah Kota
Tren Makanan Viral: Belajar Dari Kasus Nyata
IBA.id sering menerima laporan terkait produk viral yang akhirnya bermasalah. Misalnya, beberapa waktu lalu, minuman manis dari luar negeri ramai dibahas karena mengandung gelatin babi. Ada pula kasus dessert yang memakai emulsifier impor tanpa sertifikasi. Bahkan daging premium sering ditemukan tidak jelas sumber penyembelihannya.
Contoh-contoh seperti ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan menjadi pengingat bahwa popularitas bukan jaminan keamanan halal. Justru semakin viral suatu produk, semakin tinggi potensi masyarakat mengonsumsinya tanpa cek lebih dulu.
Pilihan Konsumsi Halal: Membangun Budaya Baru
Ketika masyarakat semakin peduli halal, maka pelaku usaha juga akan mengikuti. Banyak UMKM kini mulai mengurus sertifikasi halal agar tidak kehilangan kepercayaan pelanggan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya halal bisa terbentuk jika masyarakat memberi tekanan secara positif.
IFA.id melihat pergeseran menarik. Kini banyak pembeli yang bertanya “Ini sudah halal?” sebelum bertanya “Ini enak tidak?”. Pergeseran ini menggambarkan kesadaran baru, bahwa kelezatan tidak berarti apa-apa jika tidak membawa ketenangan batin.
Baca Juga: Rotasi 250 ASN, DPRD Kota Bekasi Panggil BKPSDM dan Sekda untuk Klarifikasi
Viral Boleh, Halal Wajib