ibrah

Jika Riba Itu Dosa Besar, Mengapa Masih Banyak yang Menganggap Ringan?

Senin, 27 Oktober 2025 | 12:48 WIB
Riba sering kali tampak seperti jalan pintas menuju kenyamanan, padahal sejatinya jalan panjang menuju kehilangan keberkahan. (Foto/Ilustrasi)

Hasilnya, generasi baru tumbuh tanpa merasa ada yang salah. Bank dianggap penolong, bukan pemeras; kartu kredit dipandang solusi, bukan jebakan. Nilai-nilai moral yang dulu begitu tajam kini tumpul oleh narasi ekonomi modern.

Padahal, jika ditelaah lebih dalam, riba bukan hanya merusak spiritualitas, tapi juga menciptakan ketimpangan struktural. Orang kaya makin kaya karena bisa “menghasilkan uang dari uang”, sementara yang miskin makin terjerat karena bergantung pada pinjaman berbunga.

Riba dan Ilusi Kemajuan Finansial

Banyak orang menganggap riba adalah “jalan cepat” menuju kesejahteraan. Cicilan dianggap bentuk kemudahan, bukan beban. Padahal di balik ilusi kemudahan itu, ada lingkaran ketergantungan yang sulit diputus.

Baca Juga: Mengapa Riba Diharamkan? Inilah Alasan Ilmiah dan Spiritualnya

Misalnya, seorang pekerja muda membeli mobil dengan kredit. Awalnya terasa ringan, tapi bunga yang terus berjalan membuatnya membayar dua kali lipat dari harga asli. Jika kehilangan pekerjaan, ia bukan hanya kehilangan mobil, tapi juga menanggung hutang yang belum lunas.

Begitulah riba bekerja: manis di awal, pahit di akhir. Dan yang paling berbahaya, pahitnya tak selalu terasa langsung, melainkan merayap perlahan hingga seseorang terbiasa hidup dalam tekanan finansial tanpa sadar.

Kenapa Banyak yang Masih Ringan Terhadap Riba?

  1. Kurangnya Kesadaran Spiritual.
    Banyak yang tahu riba haram, tapi tak merasakan kedekatan spiritual dengan larangan itu. Seolah-olah hukum Allah hanya sebatas “aturan”, bukan petunjuk hidup.

  2. Tekanan Ekonomi Modern.
    Hidup di era konsumtif membuat orang merasa harus punya segalanya sekarang juga. Tanpa cicilan, rumah atau kendaraan terasa mustahil dimiliki.

  3. Minimnya Edukasi Keuangan Syariah.
    Banyak umat Islam tidak mengenal alternatif yang halal seperti akad murabahah, mudharabah, atau qard hasan. Akibatnya, sistem konvensional dianggap satu-satunya jalan.

  4. Kebiasaan Sosial.
    Lingkungan yang terbiasa berutang berbunga membuat perilaku itu tampak normal. Ketika semua orang melakukannya, rasa salah pun memudar.

    Riba dan Dampaknya pada Jiwa

    Baca Juga: Beda Riba, Bunga, dan Investasi Halal: Panduan Bijak untuk Muslim Modern

Riba tidak hanya menguras harta, tapi juga menumpulkan hati. Rasulullah ﷺ bersabda: “Satu dirham dari hasil riba yang dimakan seseorang, lebih besar dosanya daripada tiga puluh enam kali zina.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

Betapa beratnya dosa riba, namun justru ia paling mudah dilakukan. Efeknya bukan hanya ekonomi, tapi juga moral dan spiritual.

Halaman:

Tags

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB