Hasilnya, generasi baru tumbuh tanpa merasa ada yang salah. Bank dianggap penolong, bukan pemeras; kartu kredit dipandang solusi, bukan jebakan. Nilai-nilai moral yang dulu begitu tajam kini tumpul oleh narasi ekonomi modern.
Padahal, jika ditelaah lebih dalam, riba bukan hanya merusak spiritualitas, tapi juga menciptakan ketimpangan struktural. Orang kaya makin kaya karena bisa “menghasilkan uang dari uang”, sementara yang miskin makin terjerat karena bergantung pada pinjaman berbunga.
Riba dan Ilusi Kemajuan Finansial
Banyak orang menganggap riba adalah “jalan cepat” menuju kesejahteraan. Cicilan dianggap bentuk kemudahan, bukan beban. Padahal di balik ilusi kemudahan itu, ada lingkaran ketergantungan yang sulit diputus.
Baca Juga: Mengapa Riba Diharamkan? Inilah Alasan Ilmiah dan Spiritualnya
Misalnya, seorang pekerja muda membeli mobil dengan kredit. Awalnya terasa ringan, tapi bunga yang terus berjalan membuatnya membayar dua kali lipat dari harga asli. Jika kehilangan pekerjaan, ia bukan hanya kehilangan mobil, tapi juga menanggung hutang yang belum lunas.
Begitulah riba bekerja: manis di awal, pahit di akhir. Dan yang paling berbahaya, pahitnya tak selalu terasa langsung, melainkan merayap perlahan hingga seseorang terbiasa hidup dalam tekanan finansial tanpa sadar.
Kenapa Banyak yang Masih Ringan Terhadap Riba?
-
Kurangnya Kesadaran Spiritual.
Banyak yang tahu riba haram, tapi tak merasakan kedekatan spiritual dengan larangan itu. Seolah-olah hukum Allah hanya sebatas “aturan”, bukan petunjuk hidup. -
Tekanan Ekonomi Modern.
Hidup di era konsumtif membuat orang merasa harus punya segalanya sekarang juga. Tanpa cicilan, rumah atau kendaraan terasa mustahil dimiliki. -
Minimnya Edukasi Keuangan Syariah.
Banyak umat Islam tidak mengenal alternatif yang halal seperti akad murabahah, mudharabah, atau qard hasan. Akibatnya, sistem konvensional dianggap satu-satunya jalan. -
Kebiasaan Sosial.
Lingkungan yang terbiasa berutang berbunga membuat perilaku itu tampak normal. Ketika semua orang melakukannya, rasa salah pun memudar.Riba dan Dampaknya pada Jiwa
Baca Juga: Beda Riba, Bunga, dan Investasi Halal: Panduan Bijak untuk Muslim Modern
Riba tidak hanya menguras harta, tapi juga menumpulkan hati. Rasulullah ﷺ bersabda: “Satu dirham dari hasil riba yang dimakan seseorang, lebih besar dosanya daripada tiga puluh enam kali zina.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)
Betapa beratnya dosa riba, namun justru ia paling mudah dilakukan. Efeknya bukan hanya ekonomi, tapi juga moral dan spiritual.
Artikel Terkait
Kebaikan di Tengah Dunia yang Sibuk
Membangun Spirit Kolaboratif Lewat Pesantren Kilat Masa Kini