Kamis, 4 Juni 2026

Mengapa Riba Diharamkan? Inilah Alasan Ilmiah dan Spiritualnya

- Senin, 27 Oktober 2025 | 12:28 WIB
Simbol keseimbangan: ekonomi halal yang adil dan penuh keberkahan. IFA.id mengingatkan, larangan riba adalah bentuk kasih sayang Ilahi agar manusia hidup tenang dan saling menyejahterakan. ( Foto/Ilustrasi)
Simbol keseimbangan: ekonomi halal yang adil dan penuh keberkahan. IFA.id mengingatkan, larangan riba adalah bentuk kasih sayang Ilahi agar manusia hidup tenang dan saling menyejahterakan. ( Foto/Ilustrasi)

IFA.id - Pernah ada seorang pengusaha muda yang hidupnya tampak makmur. Mobil mewah, rumah megah, semua hasil pinjaman bank berbunga tinggi. Awalnya semua terasa ringan, sampai bunga mulai menumpuk.

Hidupnya perlahan berubah menjadi perlombaan menutup utang dengan utang baru. Akhirnya, bukan hanya hartanya yang lenyap kedamaian jiwanya ikut hilang.

Cerita semacam ini bukan satu dua kali terdengar. Dalam skala kecil maupun besar, riba sering meninggalkan jejak kehancuran yang sunyi tapi pasti.

Itulah mengapa Islam menegaskan, “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275). Tapi pernahkah terpikir, mengapa larangan ini begitu keras? Apakah hanya soal dosa, atau ada alasan ilmiah di baliknya?

Baca Juga: Beda Riba, Bunga, dan Investasi Halal: Panduan Bijak untuk Muslim Modern

IFA.id mencoba mengurai rahasia besar di balik larangan riba—antara logika ekonomi, kesehatan mental, dan spiritualitas manusia.

Riba: Lebih dari Sekadar “Bunga”

Dalam pandangan syariat, riba bukan hanya tambahan bunga pada pinjaman uang. Ia adalah praktik eksploitasi di mana satu pihak mengambil keuntungan dari kesulitan pihak lain tanpa risiko sepadan.

Rasulullah SAW bersabda, “Rasul melaknat pemakan riba, pemberi riba, penulisnya, dan dua saksinya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menggambarkan betapa seriusnya masalah ini. Islam memandang keadilan ekonomi harus didasarkan pada kerja, usaha, dan risiko bersama bukan keuntungan sepihak dari penderitaan orang lain.

Baca Juga: Kopi, Ketelitian, dan Ketenangan: Perjalanan Ammar FH Menuju Juara Utama Coffee Brewing Competition 2025

Secara ekonomi, sistem berbunga menciptakan ketimpangan struktural. Yang punya modal semakin kaya, sementara yang berutang terus tertekan. Akibatnya, jurang sosial melebar, dan roda ekonomi kehilangan keseimbangannya.

Dampak Ekonomi Riba yang Tak Terlihat

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Menebar Senyum, Menebar Pahala

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X