Kamis, 4 Juni 2026

Jika Riba Itu Dosa Besar, Mengapa Masih Banyak yang Menganggap Ringan?

- Senin, 27 Oktober 2025 | 12:48 WIB
Riba sering kali tampak seperti jalan pintas menuju kenyamanan, padahal sejatinya jalan panjang menuju kehilangan keberkahan. (Foto/Ilustrasi)
Riba sering kali tampak seperti jalan pintas menuju kenyamanan, padahal sejatinya jalan panjang menuju kehilangan keberkahan. (Foto/Ilustrasi)

Orang yang terbiasa hidup dengan riba cenderung kehilangan keberkahan rezekinya tampak banyak, tapi cepat habis; hatinya gelisah, meski hartanya berlimpah.

Alternatif Hidup Tanpa Riba

IFA.id mencatat, banyak lembaga keuangan syariah kini menawarkan sistem yang adil dan transparan. Akadnya jelas, risikonya ditanggung bersama, dan keuntungan dibagi berdasarkan hasil nyata, bukan bunga tetap.

Baca Juga: Kopi, Ketelitian, dan Ketenangan: Perjalanan Ammar FH Menuju Juara Utama Coffee Brewing Competition 2025

Sistem ekonomi Islam mengajarkan bahwa uang bukanlah komoditas, melainkan alat tukar. Nilai sejatinya baru muncul ketika digunakan untuk aktivitas produktif perdagangan, investasi halal, atau sedekah.

Menjalani hidup tanpa riba memang menantang di dunia yang serba kredit. Tapi bukan berarti mustahil. Banyak keluarga kini beralih ke gaya hidup sederhana: menabung lebih dulu sebelum membeli, menghindari pinjaman konsumtif, dan mengedepankan berkah daripada gengsi.

Riba Bukan Sekadar Urusan Dunia

Larangan riba bukan hanya soal keadilan ekonomi, tapi juga soal keselamatan akhirat. Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ melaknat pelaku riba, pemberi riba, penulis, dan saksinya semuanya dianggap sama dalam dosa.

Artinya, riba bukan hanya merusak sistem, tapi juga menghancurkan nilai moral masyarakat. Ketika setiap orang berlomba mencari keuntungan tanpa peduli keadilan, maka hilanglah rasa empati dan solidaritas sosial yang menjadi pondasi umat.

Baca Juga: Pesantren Kilat Kreatif: Belajar Agama Lewat Drama, Film, dan Podcast

Membangun Kembali Kesadaran Kolektif

IFA.id melihat, tantangan utama umat Islam saat ini bukan hanya memahami larangan riba, tapi menghidupkan kembali kesadaran moral di tengah dunia yang memuja kemudahan instan.

Dibutuhkan pendidikan, dakwah, dan teladan nyata agar masyarakat melihat bahwa hidup tanpa riba bukan kemunduran, melainkan bentuk keberanian spiritual.

Sebuah kisah menarik datang dari seorang pengusaha muda di Bandung. Ia memutuskan menutup kartu kredit dan membayar seluruh utangnya meski harus menjual aset.

“Setelah lunas, hidup saya lebih ringan,” katanya. “Tidur nyenyak, usaha lancar, dan anehnya — rezeki datang dari arah tak disangka.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X